Tampilkan postingan dengan label Echo System. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Echo System. Tampilkan semua postingan

Malaikat sedang sibuk

Dengan hanya berbekal sepuluh ribu rupiah aku bergegas menempuh perjalananan pulang menuju Garut dengan mengendarai sepeda motor pinjaman dari Tasikmalaya. Hujan begitu lebatnya mengguyur. Keinginan untuk sampai ke rumah begitu kuatnya, karena saat itu aku akan merayakan natal bersama keluargaku, sampai-sampai aku harus berbasah kuyup dan mengabaikan dingin. Jarak yang harus ku tempuh masih cukup panjang. Apalagi hari sudah menjelang malam dan hujan bertambah lebat.

Tanpa disangka, di tengah perjalananku terhenti karena ban motor yang ku kendarai kempes. Entah karena paku atau memang aku tidak memerikasa terlebih dahulu keadaan motor itu. Hujan dan dingin masih menemaniku. Aku harus menghentikan perjalananku ini dengan mencari tukang tambal ban. Rupanya sudah tidak ada lagi bengkel tambal ban di sekitar situ yang memang jauh dari pemukiman. Atau mungkin karena hari sudah malam dan hujan yang deras mengguyur bumi.Justify Full
Dengan keadaan yang basah kuyup kucari sebuah bengkel tambal ban dengan menuntun motor itu. Dan rupanya tidak cukup dekat jaraknya. Dingin dan lelah segera menyambar keadaanku. Dan tanpa kusadari, dari mulutku mengucap pelan:"Tuhan,tolong..."

Dalam gelap...hujan...dingin dan lelah kuteruskan pencarian bengkel itu dengan mendorong motor. Katanya, untuk membuat badan untuk tetap hangat, kita harus menggerakkan badan kita. Ku dorong motor itu yang kurasa sangat berat, tapi tetap saja gemeretuk gigiku masih saja terjadi. Malah membuatku bertambah lelah yang luar biasa.

Ku lewati perjalanan ini, walaupun aku melintasi beberapa pemukiman penduduk. tapi rupanya malam dan dingin membuat mereka lebih senang berada di dalam rumah tanpa mempedulikan keadaan di luar rumah.
batas kekuatanku sudah pada puncaknya. Ku coba berteduh di suatu rumah penduduk yang ku lewati.

Dan ketika aku berteduh itu yang empunya rumah keluar dan mendapatiku yang lelah. Aku segera meminta ijin untuk sekedar beristirahat di tempatnya. Dan dia mengijinkan. lalu dia menanyakan keadaanku malah menawari segelas kopi hangat. Aku menolak halus. Tapi dia memaksaku untuk menerima tawaran itu. Malah dia segera mengeluarkan beberapa peralatan untuk membetulkan ban motorku yang kempes. Rupanya itu adalah bengkel tambal ban yang saat itu sedang tutup karena suasana tidak mengijinkan untuk terus buka. Dan dengan sadar aku berujar pelan :"Terima kasih,Tuhan".


Rupanya malaikat sedang sibuk, ...
sehingga Tuhan mengirim orang biasa melakukan pertolongan-Nya.



By:Dave


Read Users' Comments ( 0 )

Nightalker

Alkisah ada dua orang kakak-beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja-sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalah-pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan", kata pria itu dengan ramah. "Barangkali Tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku,. ..... ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya. "

Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang."

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.

Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku", kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itupun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

"Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini", kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."


Read Users' Comments ( 0 )

Menangis enam kali!!

Aku dilahirkan di kota kecil. Orang tuaku hanya buruh kecil dengan pendapatan tak seberapa. Aku mempunyai seorang kakak lelaki, tiga tahun lebih tua dariku.


Tangisan pertama

Suatu ketika, sebuah jepit rambut mencuri perhatianku. Bentuknya manis dan lucu. Seperti yang dikenakan oleh teman-teman di sekolahku. Keinginan untuk memilikinya begitu kuat. Sehingga aku nekat mencuri uang ayahku sebesar lima ribu rupiah dari laci lemari pakaiannya, untuk segera membeli jepit rambut yang dijajakan itu. Tapi ayah mengetahui uangnya hilang. Dengan sebilah rotan ditangannya segera dia memanggilku dan kakakku untuk mencari tahu siapa yang mencuri uangnya, "Siapa yang mencuri uang itu?" tanyanya.
Aku terpaku, karena terlalu takut untuk berbicara. Karena ayah tidak mendengar pengakuan dari kami, dia mengatakan: "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dihajar!"
Dia mengangkat tongkat rotan itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, kakakku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang mengambilnya!"

Tongkat rotan menghantam punggung kakakku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus menerus memukuli kakakku sampai kehabisan nafas. Sesudah itu, sambil duduk diatas bangku butut, ia kembali memarahi kakakku: "Kamu sudah jadi pencuri sekarang. Hal yang sangat memalukan. Bagaimana nanti jika di masa mendatang. Tentunya kau akan menjadi perampok! Tidak tahu malu!"

Malamnya, aku dan ibuku memeluk kakakku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi dia tidak meneteskan air mata setetespun. Di tengah malam, aku mulai menangis, sejadi-jadinya. Tapi tangan kakakku segera menutup mulutku seraya berkata, "Sudahlah jangan menangis.Semuanya sudah terjadi."

Aku membenci diriku sendiri karena tidak cukup punya keberanian untuk mengakui perbuatanku. Tahun demi tahun telah berlalu, tapi insiden itu masih tergambar jelas. Aku tidak pernah lupa wajah kakakku ketika menghadapi hukuman itu untuk melindungiku. Waktu itu aku berusia 8 tahun dan kakakku 11 tahun.

Tangisan kedua
Ketika kakakku lulus dari SMA nya dan ia berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas. Begitupun aku yang lulus dari SMP dan berniat pula untuk melanjutkan ke SMA.Kami mendengar pembicaraan kedua orang tua kami:
"Kedua anak kita pendidikannya telah memberikan hasil yang baik", kata ayah.
"Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tak bisa membiayai keduanya sekaligus." timpal ibu.
"Akan aku coba mengusahakan agar kedua anak kita bisa melanjutkan sekolahnya."kata ayah.

Saat itu juga, kakakku menghampiri kedua orang tua kami dan berkata:
"Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Sepertinya aku telah cukup mendapatkan ilmu."
Tanpa dinyana ayah menampar kakakku, sambil berkata: "Mengapa kau mempunyai jiwa yang lemah?Aku akan berusaha untuk mencari uang untuk membiayai kau dan adikmu unruk tetap bersekolah. Jika perlu aku akan mengemis di jalanan. Anak laki-lakiku harus meneruskan sekolah. Agar kita semua bisa keluar dari jurang kemiskinan ini."

Setelah melihat adegan tadi, diam-diam aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahku. Sampai pada keesokan hari, aku tak mendapati kakakku di rumah. Rupanya dia pergi meninggalkan rumah dan dia meninggalkan secarik kertas bertuliskan: "Masuk ke perguruan tinggi tidak mudah dan tidak murah. Aku pergi mencari kerja dan akan mengirimi kau uang agar kau bisa terus sekolah."

Aku memegang kertas itu di atas tempat tidurku dan menangis dengan air mata bercucuran membasahi bantalku. Suaraku hilang. Waktu itu aku berusia 17 tahun dan kakakku 20 tahun.

Tangisan ketiga
Dengan uang bekal yang diberikan ayah dan kiriman dari kakakku yang sekarang bekerja di perusahaan konstruksi di kota besar. Akhirnya aku bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Suatu hari, aku sedang belajar di kamar kostku, ketika temanku memberitahukan,
"Ada seorang penduduk desa menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada penduduk desa mencariku?Siapa dia? Aku berjalan keluar kamar dan melihat seseorang yang berpakaian lusuh. Seluruh badannya kotor kotor penuh debu. setelah melihat lebih dekat, ternyata kakakku, "Mengapa kau tidak bilang pada temanku bahwa kau kakakku?"
Dia menjawab sambil tersenyum, "Lihat penampilanku. Apa yang mereka pikir jika mereka tahu aku adalah kakakmu?Mereka pasti akan menertawakanmu."

Aku terenyuh. Air mata memenuhi mataku. Aku segera menyapu debu-debu dari tubuh kakakku, dan berkata dengan tersendat-sendat,"Aku tidak peduli omongan siapapun!Kau adalah kakakku. apapun dan bagaimanapun penampilanmu."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan menjelaskan, "Aku melihat melihat semua gadis-gadis kota memakainya. Jadi aku pikir adikku harus memakainya juga." Aku tidak dapat menahan diriku lebih lama lagi. Aku memeluk kakakku lalu menangis dan menangis. Waktu itu aku berusia 21 tahun dan kakakku 24 tahun.

Tangisan keempat
Ketika musim liburan tiba, aku pulang ke rumah diantar oleh pacarku. Kulihat kakakku pun berada disana dengan tangan terbalut saputangan karena luka. Rumahku sekarang bersih sekali. Kaca jendela pecah yang terbengkalai sekian lama sudah kembali bagus. Ibu sudah bekerja keras untuk membenahi rumah ini untuk menyambut kepulangan kami, pikirku. Setelah memperkenalkan pacarku pada ibu dan kakakku. Ia harus kembali pulang ke kota. Aku ditinggal sendiri menghabiskan masa liburanku, "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk membersihkan rumah ini bagi kedatangan kami." Tetapi ibu menimpali sambil tersenyum, " Kakakmulah yang mengerjakan ini semua. Dia sengaja pulang lebih awal dari kamu. Untuk membersihkan rumah. Sampai tangannya terluka ketika memasang kaca jendela yang pecah itu. Tidakkah kau melihat luka yang ada pada tangan kakakmu?"

Aku segera menemui kakakku. Melihat wajahnya yang kurus segera aku mengambil perban dan tangan kakakku. Ku campakkan saputangan yang membalut tangannya yang luka. Ku ambil salep antiseptik dan segera ku bungkus luka itu dengan perban.
"Apakah tanganmu tidak sakit?", tanyaku.
"Ah, tidak. Ini tidak seberapa. Kamu tahu, di tempatku bekerja, batu-batu berjatuhan setiap saat. Bahkan pernah pada suatu ketika jatuh menimpa kakiku dan kepalaku.. Itu tidak menghentikanku bekerja dan......" Ia menghentikan bicaranya ketika dilihatnya aku memunggunginya dan air mataku deras mengalir ke wajahku. Dia berlalu seraya mengusap kepalaku. Waktu itu usiaku 23 tahun dan kakakku 26 tahun.

Tangisan kelima
Akhirnya aku mendahului kakakku untuk menikah dan aku tinggal di kota. Berulang kali aku dan suamiku mengajak kedua orang tuaku untuk tinggal bersamaku di kota, tetapi mereka menolak. Karena mereka tidak mau meninggalkan desa tempat hidup mereka. Kakakkupun juga tidak setuju. Ia berkata, " Jagalah mertuamu. Biar aku yang menjaga ibu dan ayah disini."

Suamiku menjadi Direktur di pabriknya. Kami menginginkan kakakku mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai Manajer pada Departemen Pemeliharaan. Tetapi kakakku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras akan memulai usaha sendiri sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, kakakku mendapat kecelakaan ketika sedang memperbaiki rumah langganannya. Ia harus masuk rumah sakit. Aku bersama suamiku segera menjenguknya. Melihat tangan yang di gips, aku menggerutu, "Mengapa kau menolak menjadi manajer? Manajer tidak harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu begitu serius. Mengapa kau tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan wajah serius, ia membela keputusannya, "Pikirkan suamimu, ia baru saja menjadi direktur, sedangkan aku hanya orang yang tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer hanya karena aku kakak iparnya. Apa nanti kata orang?" Mataku dipenuhi airmata dan kemudian keluar kata-kataku yang terpatah-patah: "Kau kurang pendidikan juga karena aku!". Lalu kata kakakku :"Mengapa membicarakan yang sudah berlalu?". Waktu itu aku berusia 27 tahun dan kakakku 30 tahun.

Tangisan keenam
Kakakku menikah dengan gadis petani di desaku. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Bahkan tanpa berpikir panjang ia menjawab, "Adikku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan sudah tidak ku ingat lagi.
"Ketika sekolah dulu, biasanya setiap hari Senin selalu diadakan upacara bendera. Dan aku kebagian menjadi petugas upacara itu. Kami semua diwajibkan memakai seragam lengkap. Kemeja putih, celana merah, topi merah, dasi merah, sepatu hitam dan kaos kaki putih. Jika tidak mengenakan seragam itu tentunya akan mendapat hukuman. Pada saat itu dasi yang kupunya hilang entah kemana. Dan pada saat itu pula adikku menyodorkan dasi kepunyaannya padaku, katanya aku lebih memerlukannya. Tapi rupanya kewajiban memakai seragam lengkap itu bukan untuk petugas upacara saja tetapi juga untuk seluruh peserta upacara. Dan adikku tahu akan hal ini. Adikku mendapat hukuman dari sekolah karena ia tidak memakai dasi sebagai bagian dari seragam sekolah. Ku lihat dia di hukum dengan dijemur di tengah lapangan sendirian. Dia begitu kelelahan dan dia tidak menangis. Sejak hari itu, aku berjanji, selama aku masih hidup aku akan selalu menjaga adikku dan akan selalu baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah keluar dari mulutku,
"Dalam hidupku, orang yang paling layak mendapat terima kasihku adalah kakakku!".
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran dari mataku seperti sungai. Waktu itu usiaku 30 tahun dan usia kakakku 33 tahun.


dari Bahana 2006


Catatan : Ketika membaca ,mengedit dan menulis kembali kisah 'I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES' ini, tak terasa air mataku ikut mengalir, terkenang masa lalu yang pernah terjadi walau dalam situasi dan kondisi yang berbeda.(D'Crow)


Read Users' Comments ( 0 )

Membagikan benih terbaik.

Seorang petani jagung yang selalu mendapat hadiah utama dalam Hari Tani Nasional, mempunyai kebiasaan membagi-bagikan benih terbaik yang dimilikinya pada petani-petani tetangganya. Ketika ditanya, mengapa ia berbuat demikian, ia menjawab : "Sebenarnya saya melakukan itu semua untuk kepentingan diriku sendiri. Angin menerbangkan serbuk-serbuk dan membawanya dari ladang ke ladang. Maka jika petani-petani tetangga saya menanam jagung yang kualitasnya rendah. Penyerbukan silang akan membuat mutu jagung sayapun menjadi rendah pula. Itulah mengapa saya selalu mengusahakan agar mereka pun selalu hanya menanam jagung dengan mutu yang paling baik.

Semua yang kita berikan kepada orang lain, sebenarnya untuk kepentingan diri kita sendiri.


Read Users' Comments ( 0 )

Kena Tilang

Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja untuk kebutuhan lebaran, saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi.Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.


Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir (Sop) : Baik Pak...
P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak
P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke platnomor taksi yg memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang...lalu menulis dengan sigap
Sop : Pak jangan ditilang deh... wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana... kalo ada pasti saya pasang
P : Sudah..saya tilang saja..kamu tau gak banyak mobil curian sekarang...(dengan nada keras !!)
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kanAda STNK nyapak , ini kan bukan mobil curian!
P : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya...Saya mau yg warna BIRU aja
P : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?
P : Ini kan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU...Dulu kamu bisa minta form BIRU... tapi sekarang ini kamu Gak bisa...Kalo kamu gak kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)

Dalam hati saya ...berani betul sopir taksi ini ...

P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!?
Sop : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta form BIRU...Bapak kan yang gak mau ngasih
P : Kamu jangan macam-macam yah... saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan!? Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku?Gini aja pak saya foto bapak aja deh... kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP)

Wah ... wah hebat betul nih sopir .... berani, cerdas dan trendy ...(terbukti dia mengeluarkan hpnya yang berkamera).

P : Hey! Kamu bukan wartawankan! ? Kalo kamu foto saya,saya bisa kandangin (sambil berlalu)

Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan "shoot pertama" (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )

P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih(sambil tunjuk polisi yg menilangnya)

Lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi
P 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak.... Masih sama temen bapak tuh(polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)
P : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)

Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp.30.600 sambil berkata:
"nih kamu bayar sekarang ke BRI ...lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu"..
Sop : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong kalo gini dari tadi kan enak...

Kemudian si sopir taksi segera menjalnkan kembali taksinya sambil berkata pada saya,:
"Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya ... mau transfer uang tilang .
Saya berkata:
"ya silakan".

Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata :
"Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu. Untung saya paham macam2 surat tilang." Tambahnya, :"Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI.... Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!"

Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut:
SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrianpanjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan
nilai tilai tilang. Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.
SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekeningtertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang.
You know what!?
Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50ribu! dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA.

Dari Kiriman e-mail fans Jass FM


Read Users' Comments ( 1 )

Suara Hati Anak Pantai Kuta

(Untuk H.Rhoma Irama)

Bang Rhoma yang saya hormati...
Jangan salah kan turis pakai bikini
Mereka mencari matahari
Di pantai kebanggaan negeri ini
Untuk itu tolong pahami
Tak mungkin berjemur pakai dasi

Bang Rhoma yang saya hormati...
Mulailah introspeksi diri
Kelak kau temukan kebenaran sejati
Jangan banyak teori
Apalagi merasa suci
Engkau sendiri berpoligami
Kami anak pantai
Terbiasa dengan pemandangan begini
Biar pun rambut warna-warni
Kami masih punya nurani
Tak pernah ada syahwat menari

Bang Rhoma yang saya hormati...
Silahkan engkau datang kemari
Nikmati alam anugerah Ilahi
Kami sambut dengan suka hati
Surfing pun kami ajari
Meluncur di atas ombak tinggi
Akan tetapi....
Jangan engkau pelototi
Kalau ada bodi seksi
Apalagi sampai birahi

Bang Rhoma yang saya hormati...
Mereka jangan dicaci maki
Apalagi dituduh pornografi
Semua itu keindahan! tubuh yang alami
Dari negeri Sakura sampai Chili
Semua ada disini
Biarkan semua bangsa berbaur dalam damai
Mereka tidak cari sensasi
Tapi menghilangkan kepenatan sehari-hari
Jangan fanatik budaya lain
Ingat budaya Indonesia asli
Sensual tapi penuh arti
Jika kau paksa terapkan di Bali
Semua itu akan jadi basi

Bang Rhoma yang saya hormati...
Jika engkau sudah datang kemari
Satu hal yang saya peringati
Meski ada turis cantik sekali
Jangan kau jadikan istri

(dari Kiriman E-mail fans Jass FM)


Read Users' Comments ( 0 )

4 Element


Ada 4 element masyarakat yang mengelilingi kehidupan kita. Mereka adalah :

1. Yang masih bertanya : "Apakah besok kita makan?"

2.Yang masih mempertanyakan :"Besok makan apa?"

3.Yang selalu bertanya :"Besok makan dimana?"

4.Yang dengan santai bertanya :"Besok makan 'siapa'?"

Silahkan pilih kita berada atau mau di kelompok element masyarakat yang mana.


Read Users' Comments ( 0 )

Syukur

Jika populasi bumi berkurang hingga hanya menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku?

Phillip M Hartner, MD, dari fakultas Kedokteran Stamford University Amerika Serikat mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Berdasarkan analisanya, desa bumi kecil akan terdiri dari:

57 orang asia
21 orang eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang afrika

52 orang perempuan
48 laki-laki

80 orang bukan kulit putih
20 orang kulit putih

89 heteroseksual
11 homoseksual

6 orang memiliki 59% dari dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tsb seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
80 orang tinggal dirumah-rumah yang tidak memenuhi standar.
70 orang tidak dapat membaca
50 orang menderita kekurangan gizi
1 orang hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
1 orang memiliki computer

Nah, marilah kia merenungkan hasil analisa Hartner dan mulai dari hal-hal sbb:

- Jika anda tinggal dirumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca, maka anda adalah bagian dari orang-orang terpilih.

- Jika anda memiliki rumah yang baik, makanan, dapat membaca dan memiliki computer, maka anda adalah bagian dari kelompok elit.

- Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat, maka anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan bertahan hidup minggu ini.

- Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan, ataupun kelaparan, maka anda berada selangkah lebih maju dari 500 juta orang didunia.

- Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap atau disiksa, maka anda beruntung karena lebih dari 3 milyar orang didunia tidak dapat melakukannya.

- Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat, maka anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.

- Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, maka anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.

- Jika orang tua anda masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan perkawinan mereka, maka anda termasuk salah satu kelompok yang dikategorikan langka, terutama di America Serikat.

- Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir, dan merasa benar-benar bahagia, maka anda memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh keistimewaan tsb.

- Jika anda dapat membaca pesan ini, anda baru saja menerima karunia ganda, karena sesorang memikirkan anda, dan anda jauh lebih beruntung dibandingkan lebih dari 2 milyar rang yang tidak dapat membaca sama sekali.

- Semoga anda menikmati hari yang indah ini. Hitunglah karunia keberuntungan anda, dan sampaikan hal ini kepada orang lain untuk mengingatkan bahwa sebenarnya kita adalah orang-orang yang sangat beruntung.



Read Users' Comments ( 0 )

BABI

Setiap kali menuliskan namanya, selalu keseleo dan menulis kata "babi". Fenomena ini membuat Anwar sangat terganggu sampai dia mengambil keputusan untuk mengamputasi tangan kanannya itu. Lalu segera ia berangkat menemui seorang dokter bedah. Tapi dokter bedah tidak mau memotong tangan itu, sebaliknya menuduh bahwa tangan kanan Anwarlah yang berulah:

"Ini politik. Tangan kanan saudara iri kepada tangan kiri yang pakai jam dan cincin kawin. Lalu ia mencoba membuat sabotase. Sementara saudara menulis ia menutup muka dan mata saudara, lalu menggosok tulisan 'Anwar' menjadi 'Babi'.


Dengan diagnostik alá seorang psikolog, lalu menyuruh memindahkan jam serta cincin ke tangan kanannya. Kemudian dokter bedah itu menyuruh Anwar untuk menuliskan namanya di atas kertas kosong. Dengan gemetar Anwar mulai mencoba menuliskan namanya dan akhirnya berhasil membuat tangan kanan itu menuliskan nama "Anwar" dengan benar . Dan dokterpun senang melihat perkembangan baik itu. Kemudian dia menyuruh Anwar membaca tulisan pada kertas kosong itu.

"Sekarang bacalah!"suruh sang dokter.

Dengan wajah penuh peluh, dia mengucap dengan suara lantang:


"BABI!"



Read Users' Comments ( 0 )

Menanam pohon mangga

Ketika musim penghujan tiba. Seorang tua menggali lubang di halaman belakang rumahnya.

"Apa yang kau kerjakan?" tanya seorang tetangganya.

"Sedang menanam pohon mangga" jawabnya.

"Apakah mengharapkan dapat memakan buah dari pohon yang kau tanam itu?"sambung tetangganya lagi.

"Tidak. Saya tidak akan menunggu sebegitu lama untuk itu. Tetapi orang lain setelah aku yang akan memakannya.Itu telah aku nikmati pada waktu yang berlainan, bahwa mangga yang aku nikmati sepanjang hidupku itu telah ditanam oleh orang lain sebelum aku. Dan inilah bentuk ungkapan terima kasihku kepada mereka".

(de Mello)


Read Users' Comments ( 0 )

Jejak Langkah


Suatu hari aku berjalan di pantai bersama Tuhan.

Pada setiap episode perjalanananku yang penuh dengan anugrah yang diberikanNya untukku.Ku lihat dua pasang jejak kaki di hamparan pasir di pantai. Sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan.

Tetapi....


Ketika episode kelam dalam kehidupanku, aku melihat hanya ada sepasang jejak kaki saja di pasir pantai.Tuhan telah meninggalkanku....Lalu aku bertanya kepada Tuhan:

"Tuhan, mengapa kau meninggalkanku
di saat aku sangat membutuhkanmu!"

Kata Tuhan :

"Kau begitu istimewa. Aku tak pernah meninggalkanmu di kala kekelaman melanda hari-harimu. Jika kau hanya melihat sepasang jejak kaki saja di pantai... itu karena Aku menggendongmu!"



Read Users' Comments ( 1 )

Pelayanan tak di mulai di rumah

Karena,apa yang kita lakukan untuk keluarga kita, rumah kita tak bisa disebut pelayanan. Ini adalah kewajiban kita, tanggungjawab kita. Dan,sehingga, pelayanan tak di mulai di rumah.Pelayanan harus di mulai di luar rumah kita.Pelayanan lahir dari rasa welas asih pada mereka yang jauh dari kita, yang merupakan orang asing,yang tak kita kenal secara personal…. Tapi, yang sedang menderita, yang tengah membutuhkan pelayanan kita.

Dengan melayani keluarga kita sendiri, kita tak membuktikan apapun. Kita justru mengingkari ikatan yang kita ciptakan sendiri. Apa yang kulakukan untuk mereka adalah bagian dari tugas keluarga - tak lebih dari itu. Dan, akan tiba saatnya kewajiban semacam itu berakhir. Misalnya saat kamu tak harus lagi membiayai kehidupan anak-anakmu.

Kewajiban pasti berakhir, Pelayanan tak bernah berakhir.

Pelayanan adalah sejenis Persembahan Kasih yang dilakukan tanpa beban apapun. Saat kamu tak harus melakukan sesuatu, tapi kamu tetap memilih melakukannya - maka, kamu menjadi Pelayan.

Sebuah sistem kepercayaan yang memaksamu melakukan pelayanan, sejatinya justru kehilangan rasa pelayanan itu sendiri. Sesungguhnya tak ada satu sistempun yang bisa melahirkan hati yang penuh pelayanan. Pemilik hati yang penuh kasih tak butuh iming-iming untuk melakukan tindak pelayanan. Ia tak butuh kapling di surga yang nyaman setelah kematian. Ia tak butuh motivasi apapun, segala motif luaran, untuk melakukan pelayanan.

Jika kamu merasa iba pada penderitaan rakyat Lebanon hanya karena mereka pemeluk agama yang sama denganmu - maka kamu tak layak disebut pelayan. Kamu harus merasakan bahwa penderitaan mereka karena memang mereka sungguh menderita. Dan, ini sangat tidak manusiawi membuat orang lain menderita. Di balik penderitaan rakyat Lebanon, bukan hanya Israel yang bersalah. Kelompok Hisbullah juga sama salahnya. Mereka seperti negara dalam negara. Dan, oleh karena itulah, Negara Lebanon bersalah pula. Bagaimana bisa mereka membiarkan tumor ganas organisasi militan semacam itu eksis di tubuh negara mereka?

Jika kamu mendukung agresi Israel hanya kerena kamu terlahir sebagai seorang Yahudi, maka kamu menjadi agresif pula. Lantas, kamu juga bersalah karena tindak kriminal dan kekerasan semacam ini. Apakah kamu tak pernah berfikir bahwa kamu bukanlah pelayan dengan mendukung agresi semacam itu?

Pelayanan tak bisa dilakukan dengan hanya mendukung sebuah ideoloi saja.
Pelayanan harus dilakukan untuk mendukung nilai-nilai universal.
Pelayanan macam apa yang terkandung dalam sebuah agresi?

Seorang pengacara atau tim pengacara yang membela teroris juga tak layak disebut pelayan, walau mereka mengkalim demikian. Mereka mengkalim bahwa mereka tak mendapat bayaran dari para teroris tersebut. Itu membuat mereka tak lebih baik dari para teroris itu sendiri. Mereka berjuang untuk sebuah ideologi kekerasan, sebuah ideologi yang tak bisa disebut pelayanan. Kebajikan macam apa yang dilakukan dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah, mengebom area publik dan merusak citra negara sendiri?

Sebuah kebajikan selalu membawa kebahagiaan bagi banyak orang, bagi sebanyak mungkin orang, ya sebanyak mungkin. Dan, orang yang penuh pelayanan ialah ia yang terlibat dalam hal semacam ini.

Orang yang penuh pelayanan, seseorang yang hatinya penuh kasih, tak bisa dibatasi dengan empat tembok dalam rumahnya sendiri. Orang semacam ini selalu mencoba keluar dari dalam rumahnya, untuk membebaskan dirinya dari segala kewajiban, sehingga mereka bisa melayani semua.

Dengan mengatakan ini, tentu saja aku tak bermaksud bahwa mereka harus melarikan diri dari tanggungjawab. Tidak. Justru mereka bekerja super keras untuk memenuhi segala kebutuhan mereka, menyelesaikan tanggungjawab atas keluarganya - sehingga dapat melakukan hal lain. Sehingga mereka dapat bergerak dan bertindak demi nilai-nilai yang lebih tinggi.

Donasi, cara ini, adalah hanya satu aspek dari pelayanan. Ini sama sekali bukan aspek satu-satunya. Dalam realitasnya kamu tak dapat mendonasikan apapun tanpa rasa pelayanan. Saat kamu mendonasikan secara tak ikhlas, kamu tak bisa di sebut pelayan. Ini juga tak bisa di sebut pelayanan saat kamu membagi unag supaya mendukung partai tertentu yang memiliki agenda terselubung dalam pemilu. Setiap donasi yang diberikan, setiap tindakan pelayanan yang dilakukan, segala sesuatu yang dilaksanakan dengan ekspetasi tertentu - tak bisa disebut sebagai pelayanan.

Pelayanan dilakukan tanpa mempedulikan hasil.
Pelayanan dilakukan semata karena kamu penuh kasih. Ini adalah bagian dari fitrahmu. Segala sesuatu yang tak alamiah - bukanlah pelayanan.

Belajarlan menjadi pelayan dari alam sekitarmu.
Matahari memberimu cahaya tanpa ekspektasi apapun. Bulan bersinar tanpa berharap balasan. Angin berhembus karena memang berhembus adalah perannya dalam alam ini. Air mengalir atas iramanya sendiri. Dan, kita menerima rahmah, manfaat dari mereka semua. Kita mengambil manfaat dari mereka karena semata menjalankan peran dalam alam ini. Mereka tak menginginkan hal yang lain.

Dengan menjadi pelayan, kita menjadi diri kita sendiri.
Dengan menjadi arogan dan tak melayani, kita melawan takdir kita sendiri. Sebagai akibatnya kita menciptakan masalah bagi diri kita sendiri.

Dengan menjadi pelayan, kita tak melakukan apapun demi kebaikan orang lain.
Sesungguhnya, sebuah tindakan pelayanan bermanfaat bagi diri kita sendiri - karena ia menghubungkan kita dengan takdir kita! Jadilah seorang pelayan, sehingga, ini demi kebaikan diri kita sendiri.

Keluar, tinggalkan cangkangmu, dan terjunlah ditengah-tengah mereka yang miskin, rapuh, tak berdaya…Rasakan penderitaan mereka, rasa lapar dan kehauasan mereka….rasakan itu semua sampai air mata menetes dari kelopak matamu dan hatimu berdarah…Dan, kamu akan secara otomatis sekali bergerak untuk melayani mereka. Pelayanan macam ini menjangkau mereka yang paling diabaikan, menurut pendapatku, ini adalah pelayanan yang sesungguhnya.

Kamu tak harus menunggu pers datang dan meliput aksi pelayananmu ini. Pelayanan tak ada kaitannya dengan liputan media. Hari ini koran masih berharga untuk dibaca besok hanya menjadi limbah kertas saja. Jadi, jangan terlalu menghiraukan liputan media!

Jangan kamu bertindak seperti para politisi malang dan partai politik yang menghamburkan uang untuk iklan dan kampanye tentang pelayanan ketimbang melakukan tindakan pelayanan itu sendiri!

Hal lain yang amat penting. : Menjadi pelayan berarti juga menjadi amat cerdas. Pelayanan adalah sebuah tindakan yang berasal dari pikiran yang tajam. Otak yang tumpul hanya bisa mendonor uang dan mereka tak bisa melayani. Dan kita, kita telah melihat perbedaan antara keduanya. Orang yang tumpul pemahamannya tak bisa melakukan pelayanan - paling banter mereka bisa membantu. Dan, hal ini menggelembungkan ego mereka. Bantuan semacam ini tak meningkatkan kesadaran mereka sama sekali.

Beberapa waktu lalu ketika rangkaian gempa bumi meluluh–lantakkan kota Jogjakarta, banyak orang, organisasi, bahkan pejabat datang untuk membantu. Saat ini mereka tak begitu lagi membutuhkan pangan, obat dan pakaian. Teman kita yang mengikuti perkembangan situasi ini dari dekat dan intens memutuskan untuk melayani dalam satu hal yang amat spesifik yang tak seorangpun sama sekali memikirkannya, yakni membantu mereka mengatasi stres dan trauma. Untuk mengangkat kembali semangat mereka dan energi kehidupan sehingga mereka dapat kembali bekerja tak hanya mengantri di depan dapur umum gratisan yang banyak tersebar di daerah tersebut. Mereka berhasil, dan Pemerintah daerah mengetahui hal ini dan mengunjungi posko mereka, bahkan bernyanyi dengan mereka. Ini adalah cara yang cerdas untuk melakukan pelayanan. Ini menjadi sebuah pelayanan dalam arti yang sesungguhnya.

Curahkan waktumu; berikan energimu. Pada hal yang penting. Banyak orang bisa memberi uang, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa memberikan waktu dan energinya. Jangan kamu menjadi bagian dari banyak sukarelawan yang sering kamu lihat, tak satupun dari mereka yang benar-benar sukarelawan. Sebagian besar dari mereka dibayar, entah oleh pemerintah atau oleh institusi yang mereka wakili. Banyak dari mereka yang disewa oleh apa yang di sebut LSM, mereka menuntut bayaran lebih banyak ketimbang gajimu dan gajiku. Mereka adalah pekerja biasa, mereka bekerja untuk hidup. Mereka mendapat bayaran untuk pekerjaan mereka. Dan tak pantas disebut pelayan.

Aku tak mengatakan bahwa mereka tak dibutuhkan. Mereka dibutuhkan juga. Tapi mereka bukanlah sukarelawan dalam arti kata yang sebenarnya. Mereka pekerja bayaran. Mungkin instrtusi yang mereka wakili menyebut sebagai pelayan. “Mungkin”, karena walau tetap ada pengecualian. Banyak institusi yang memiliki agenda terselubung yakni mempromosikan ideologi tertentu lewat karya pelayanan mereka.

Sepenuhnya pilihan ada ditanganmu, sekarang - kamu mau menjadi pelayan atau pekerja bayaran. Jika kamu memilih menjadi pelayan, maka persiapkan dirimu untuk waktu-waktu yang penuh kerja keras di masa depan. Karena pelayanan menuntut pengorbanan. Pelayanan sinonim dengan pengorbanan. Hanya meluangkan sejumlah waktu dan energi untuk cita-cita ini mungkin tak bakal cukup. Kamu harus menyerahkan kepalamu untuk ini. Dan itulah Puncak Tindakan Pelayanan.



Read Users' Comments ( 0 )

Belajar 'Goblok' dari Bob Sadino

Pasti Anda bingung dengan judulnya, 'goblok' kok dipelajari! Awalnya saya juga bingung, tapi setelah bertemu langsung dengan Om Bob (pangilan akrab Bob Sadino), baru percaya bahwa statement itu benar. Bob Sadino terkenal dengan pengusaha yang 'Nyleneh' gaya dan pola pikirnya. Sejak dari jaman Soeharto, dia terkenal dengan 'kostumnya' yang selalu bercelana pendek. Begitulah cara Om Bob bertemu dengan semua presiden negeri ini. Di kediamannya di kawasan Lebak Bulus sebesar 2 hektar, dia membuat kami pusing dengan statement-statementnya yang super Nyleneh. Misalnya dia tanya,"Menurutmu kebanyakan orang bisnis cari apa Dave?" Spontan kita jawab,"Cari untung om!" Kemudian Om Bob balik menjawab,"Kalo saya cari rugi!" Dia menjelaskan, kalo bisnis cari untung, apa selamanya untung? Sama juga kalo bisnis cari rugi, apa selamanya rugi? Maknanya adalah, rugi tak perlu ditakuti. Bahkan karyawan Kemchicks (pabrik daging olahan) dan Kemfarms (exportir sayur dan buah) diijinkan untuk berbuat salah. Sampai-sampai ada karyawan yang pernah membuat kerugian US$ 5 juta dan masih bekerja sampai sekarang. Goblok atau Pintar? Trus apa maknanya belajar 'Goblok'? Bukankah banyak orang pandai tapi tak berhasil dalam usaha atau bahkan melangkahpun tak berani. Om Bob bilang, kalo orang 'goblok' itu tak pandai menghitung, makanya lebih cepat mulai usaha. Kalau orang pinter, menghitungnya 'njlimet', jadi nggak mulai-mulai usahanya. Orang 'goblok' berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang pinter, berfikir urut. Orang pintar tidak percayaan dengan orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada yang dapat menggantikan dirinya. Nah, kalau orang 'goblok', dia akan mencari orang pintar dan harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya. Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untk menutupi kekurangannya. "Ehm, situasi ekonominya lagi down", atau "Pemerintah nggak mendukung saya", kata orang pintar. Lain hal dengan orang 'goblok', jika ketemu gagal, nggak merasa kalau dia gagal, karena dia merasa sedang 'belajar'. Bahkan Om Bob juga mengatakan bahwa dia sebagai orang 'goblok' tidak melakukan perencanaan usaha, target ataupun mengenal cita-cita. Namun sebaliknya, semua karyawannya harus memiliki target dan perencanaan. Buahnya, orang 'goblok' yang jadi bossnya orang pintar. Itulah adilnya Tuhan menciptakan orang pintar dan orang 'goblok'. Masalahnya sekarang, siapa yang merasa pintar, siapa yang merasa goblok? Trus, enakan mana jadi orang pintar atau orang 'goblok'? Jika Anda semakin bingung dengan tulisan saya, artinya bagus, berarti Anda mulai ....Goblok! Kalau Anda emosi , berarti Anda pintar. Itu juga kata orang Om Bob lho..! Filosofi 'goblok' Bob Sadino dia ibaratkan seperti air sungai yang sedang mengalir. Ketemu batu di depan, ya belok kanan atau belok kiri. Namun seperti air di sungai, kitapun harus siap dikencingi, dibuangi sampah dan kotoran-kotoran yang lain. Jadi, pilih mana? GOBLOK atau PINTAR? "Pengusaha tak harus pintar dalam segala hal. Tapi harus pintar mencari orang pintar"



Read Users' Comments ( 0 )