Tampilkan postingan dengan label Jazz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jazz. Tampilkan semua postingan

Bubi Chen - 'Art Tatum' dari Asia

Bubi Chen lahir di Surabaya, 9 Februari 1938. Saat berusia 5 tahun oleh ayahnya Tan Khing Hoo, Bubi diserahkan kepada Di Lucia - seorang pianis berkebangsaan Italia - untuk belajar piano. Meski belum bisa membaca bahkan memahami not balok, Di Lucia bisa mengajarinya.

Ketertarikannya mempelajari jazz lantaran sering melihat latihan dan pertunjukan kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen. Meskipun ia sempat belajar piano klasik dengan Josef Bodmer, guru piano berkebangsaan Swiss dan menekuni musik-musik karya Mozart, Bethoven dan Chopin.

Saat belajar bersama Bodmer ini, suatu ketika Bubi tertangkap basah oleh sang guru sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bodmer tidak marah, justru malah berpesan, "Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu".

Bubi belajar jazz secara otodidak. I a mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957. Salah seorang gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman.

Di Kota Buaya, Surabaya Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono(saksofon), F.X. Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar) dan Koes Syamsudin (drums).

Bersama Jack Lesmana (alm), Maryono(alm), Kiboud Maulana, Benny Musthapa dan kakaknya Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok Indonesian All Stars ini malah sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, "Djanger Bali". Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott.

Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit dan diproduseri Suyoso Karyoso atau yang akrab dipanggil mas Yos. Tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings perndah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh Willis Conover, seorang kritikus jazz ternama dari AS.

Bubi juga pernah membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen ditahun 1950-an. Ditahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet.

Menetap di Surabaya, Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa diantaranya cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Christanti.

Bubi Chen telah merilis banyak album. Beberapa diantaranya Bubi Chen And His Fabulous 5, Mengapa Kau Menagis, Mr.Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian(1989), Bubby Chen and his friends (1990), Bubi Chen - Virtuoso(1995), Jazz The Two Of Us (1996), All I Am (1997) dan banyak lagi.

Beberapa catatan kritikus yang pernah dibuat antara lain sebagai berikut:

Menanggapi karya Bubi Chen seorang Harry Roesli pernah menulis "...Bayangkan, sebuah otonomi estetik kecapi-suling disusupi secara indah oleh Bubi Chen dengan bentuk improvisasi dan subtitusi jazz. Bayangkan sebuah harmoni sakral dan hampir minimalis, dibayangi oleh idiom-idiom jazz dari permainan Bubi Chen dengan akur-akur seluas-luasnya, bahkan dengan teknik super-impossion yang demikian modern. Secara teknik saja, hal itu sudah menarik. Tetapi ini lebih dari itu, Bubi Chen total, lentur, "kawin" dengan pakem-pakem kecapi-suling, tanpa menghilangkan karakter dia yang kuat, juga kentalnya sentuhan dan rasa seorang Bubi Chen. Makanya, hal ini bisa disebut "Hebat" ... (Harry Roesli, 4 September 1989).


Bubi Chen adalah seorang pianis yang seluruh jiwanya dicurahkan kepada musiknya. Apapun yang keluar dari tangannya pada piano, selalu mencerminkan musikalitasnya yang berakar pada jazz. Diberikan kepadanya sekumpulan lagu2 Indonesia yang indah dan seksi rhythm dengan kaliber Benny Mustafa pad drum dan Perry Pattiselano pada bass, tentu kita akan bertanya, apakah jadinya? Tanpa banyak analisa, putarlah kaset ini, dan adna akan mendenarkan interprestasi lagu2 indonesia dalam nada2 dan improvisasi yang liris dan menyegarkan. Kadang2 lembut, kadang2 penuh vitalitas yang lincah, tetapi selalu disertai penuh musikalitas. Duet piano dan bass pad lagu Api Asmara adalah salah satu "performance" yang pasti anda belum pernah mendengarnya dan hanya dapat disuguhkan oleh pianis Bubi. Semuanya ini akan anda hayati dalam album Selembut Kain Sutera. (Sudibyo PR)

Penampilan pianis yang kini menjadi salah satu maestro negeri ini, masih dapat dinikmati dibeberapa panggung jazz sebut saja Smooth Jazz di UGM, Jazz Goes to Campus Universitas Indonesia dan beberapa pentas jazz di Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota-kota lain.

Karyanya juga kerap menghiasi stasiun radio dalam dan luar negeri. Misalnya, radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM di Santa Cruz, California Amerika Serikat yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat.

Kini ia juga akan ambil bagian dalam Bali International Jazz Festival 2004 yang akan berlangsung pada tanggal 13 dan 14 Februari 2004. Sebagai salah satu aset bangsa Indonesia, kita patut selalu berdoa bagi kesehatannya dan semoga masih tetap memberikan kontribusinya bagi perkembangan musik khususnya jazz di Indonesia.


Read Users' Comments ( 0 )

Dari Axis International Java Jazz 2009

Grup band asal Inggris, Matt Bianco mengaku merasa bangga bisa tampil di Axis Jakarta International Java Jazz yang berlangsung di JCC Senayan Jakarta, dari 6 - 8 Maret 2009."Kami merasa sangat fantastis malam tadi (Jumat malam). Kami bangga bisa menjadi bagian dari Java Jazz," kata personel Matt Bianco, Mark Fischer yang ditemani personel lainnya yaitu Mark Reilly dalam jumpa pers sebelum pentas di Plenary Hall JCC Senayan Jakarta, Sabtu malam.

Fischer mengatakan Matt Bianco belum pernah tampil di Indonesia sejak pertunjukan mereka terakhir pada 1990.Ketika ditanya kenapa mereka tidak melakukan duet dengan musisi Indonesia, Fischer mengatakan dirinya tidak sempat untuk merencanakan hal tersebut."Kami juga belum kenal dengan musisi Indonesia," katanya.

Mereka juga berharap album terakhir Matt Bianco yang telah dirilis di Jepang dan Korea pada bulan Maret ini, bisa segera dirilis di Indonesia.Matt Bianco merupakan band dari Inggris yang terbentuk pada 1983 oleh tiga orang yaitu Kito Poncioni (bass), Mark Reilly (vocals), dan Danny White (keyboards),

Sebelumnya, Penyanyi asal Virginia, Amerikat Serikat, Jason Mraz untuk kedua kalinya kembali membius penonton Axis International Java Jazz Festival yang berlangsung di Plenary Hall JCC Senayan Jakarta, Sabtu malam setelah tampil pada Jumat malam.

Dengan diiringi oleh "Super band"-nya, Jason tampil menyanyikan sekitar 12 lagu dalam pertunjukan selama kurang lebih 80 menit itu yang dimulai pukul 18.00.

Ratusan penonton yang memenuhi Plenary Hall terlihat menikmati lantunan lagu-lagu penyanyi kelahiran 23 Juni 1977 itu, apalagi ketika Jason menyanyikan salah satu lagu hitnya yaitu "Lucky" bersama dengan penyanyi muda berbakat Indonesia, Dira.

Jason yang musiknya terpengaruh oleh jenis musik reggae, ska, pop, rock, folk, jazz dan hip hop ini telah menelurkan tiga album yaitu "Waiting for My Rocket to Come" (2002), "Mr A - Z" (2005) yang masuk nominasi Grammy Award untuk kategori Best Engineered Album, dan album ketiganya "We Sing We Dance We Steal Thing" yang dirilis Mei 2008. Hari kedua penyelenggaraan Java Jazz ini tetap dipenuhi oleh penonton yang sebagian besar merupakan anak muda.

Pada Sabtu, ada 65 musisi dan grup band yang tampil dari pukul 14.00 WIB sampai pukul 02.00 WIB (Minggu dini hari) pada 18 panggung di kompleks JCC Senayan.Musisi unggulan untuk hari kedua Java Jazz ini yaitu Jason Mraz, Matt Bianco dan penyanyi asal Belanda Laura Fygi

Juga tampil musisi mancanegara lainnya antara lain Chuck Loeb, The Young Prodigies, Eclairs, Quasimode dari Jepang, Harvey Mason, Oleta Adams, Cristian Cuturuffo Quinteto dari Chili, I Visionari dari Itali Sedangkan musisi Indonesia yang tampil misalnya Dewa Budjana dan Tohpati, Glend Fredly, Aksan Sjuman, Ariss, RAN, Pandji.

Java Jazz Festival yang berlangsung di Balai Sidang Jakarta, pada 6 hingga 9 Maret 2009 telah menghadirkan lebih dari 200 pertunjukan dengan total musisi yang berpartisipasi lebih dari 2.000 orang, baik musisi Indonesia maupun mancanegara.


Read Users' Comments ( 0 )

Memahami Musik Jazz

Hingga saat ini musik jazz di tanah air terus berjuang untuk dapat menjangkau berbagai lapisan dalam masyarakat. Ironisnya musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan, khususnya lapisan bawah. Bahkan ada sementara anggapan, kalau bukan stereotype, yang menyatakan bahwa jazz identik dengan gaya hidup lapisan menengah keatas. Musik Jazz ada kecenderungan hanya difahami, dinikmati, dan dikonsumsi oleh orang-orang yang tergolong “gedongan” seperti kamu terpelajar, pengusaha, pejabat, dan selebriti. Sialnya lagi ada sementara anggapan bahwa karena musik jazz mempunya sofistikasi yang tinggi apabila maka ingin memahami orang harus memiliki intelegensia yang lebih dari pada pendengar musik lain. Argument inilah yang memperkuat dugaan mengapa jazz hanya dimiliki lapisan menengah ke atas.

Penjelasan yang perlu dikejar lebih lanjut adalah : Apakah musik Jazz itu?, Mengapa musik jazz yang lahir dari negeri asalanya lahir dalam kultur politik perbudakan setelah masuk ke Indonesia menjadi elit dan eksklusif? Betulkah sofistifikasi yang dimiliki jazz menurut intelegensia yang lebih dalam memahami bila dibanding dengan musik lain?

APAKAH MUSIK JAZZ ITU?

Musik Jazz lahir dari tangan-tangan kreatif orang-orang hitam yang mengalami penindasan dan perbudakan di Amerika pada akhir abad ke-18. Ekspreasi dari sebuah perlawanan terhadap sistem politik yang rasis dan menindas terwujud dalam cara bermusik dan gaya permainan orang-orang hitam Amerika. Sejarah telah mencatat bahwa perbudakan dan diskriminasi rasial di Amerika justru melahirkan musik-musik perlawanan seperti Spiritual, gospel dan blues. Gejala ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah resistensi budaya orang hitam terhadap Westernisasi, baik dari segi agama, kultur politik hingga cara bermusik, karena sebelum dibawa ke Amerika orang-orang hitam telah memiliki kebudayaan khas Afrika.

Pada awalnya spirit musik atau ideologi dibalik jazz adalah pembebasan diri orang Afro-Amerika dari belenggu struktur sosial-politik represif yang dituangkan dalam ekspresi nada, harmoni, dan gaya permainan bermusik. Sebagai contoh, ragtime yang menjadi titik awal perkembangan jazz klasik (march, waltz dan polka), swing merupakan modifikasi dari ragtime, free jazz merupakan reinterpretasi dari bebop dan world music merupakan dekonstruksi jazz mainstream. Dalam perkembangan lebih lanjut spirit jazz diinterpretasikan tidak hanya sebatas perlawanan politis, tetapi menjadi gerakan liberalisasi atau dekonstruksi bermusik dalam rangka mencari ruang gerak, alternatif cara, dan gaya permainan lain.

Akibat dari spirit Jazz yang dialektis, liberal dan dekonstruktif itu maka sebuah gaya permainan lama akan dinegasi oleh ide-ide bermusik yang baru sehingga timbul gaya-gaya permainan baru. Dalam hal ini Berend (1992) menggambarkan kronologi perkembangan jazz dalam tiga periode waktu dimana masing-masing periode melahirkan gaya-gaya permainan spesifik. Pertama, periode jazz tradisional (1890-1940) melahirkan gaya-gaya permainan Ragtime, New Orleans, Dixieland, New Orleans in Chicago, Kansas City, Chicago, Swing. Periode jazz modern (1940-1980) memunculkan New Orleans and Dixieland Revival, Bebop, Cool, Hardbop, Free, Mainstream, Fusion. Periode jazz postmodern (1980-saat ini) memproduksi gaya-gaya Neobop, free Funk, Classicism, Neo-Classicism, No Wave dan World Music.

Puncak dari dekonstruksi dalam jazz terjadi pada tahun 1965-an yang ditandai denagn hadirnya free jazz. Gaya ini merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern dengan karakter utama tonalitas bebas (free tonality); disintegrasi pada meter, beat dan simetri; masuknya musik etnis (world music); pemujaan terhadap intensitas; dan masuknya suara-suara alam khususnya dari hutan belantara (jungle sound). Pada dekade 80 dan 90, free jazz menjadi pondasi dari perkembangan fusion dan neo-Classicism, sedang mainstream dari jazz menjelma kedalam gaya permainan Classicism. Oleh karena itu jazz tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai gaya perminan swing, bebop atau mainstream, tetapi sebagai sebuah kebudayaan bermusik yang lebih canggih dan plural.

MUSIK JAZZ DI INDONESIA

Ketika sedang gencar-gencarnya musik jazz dipasarkan di tanah air, nampak beberapa kendala telah merintangi sehingga musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, namun justru cenderung menjadi elit dan eksklusif. Padahal kalau bersandar pada spirit yang dikandungnya jelas bahwa menjadi elit bukan merupakan tujuan penciptaan musik jazz, sebab jazz selalu “berdimensi pembebasan”. Kalau begitu barangkali ada mekanisme yang kurang tepat dalam sosialisasi jazz di tanah air sehingga hasilnya cenderung bias lapisan tertentu. Mempelajari jazz memang tidak semata-mata memahami dan menikmati gaya-gaya permainan yang ada tetapi alangkah bijaksana kalau juga memahmi dimensi historis dan ideologis yang dikandungnya dalam rangka menghindari bias-bias tertentu.

Ideologi jazz yang bersifat pembebasan, liberal, demokratis dan dekonstruktif terhadap kebekuan gaya-gaya permainan sebelumnya adalah merupakan sifat kritis yang perlu juga dipahami dan diinternalisasi oleh penggemar Jazz kalau mereka ingin mengerti apa itu Jazz. Tanpa sosialisasi dari sifat kritis musik Jazz maka para penggemar Jazz justru dapat terjebak dalam cara sosialisasi yang dikembangakan saat ini oleh “rezim industri musik” sehingga jazz menjadi elit dan eksklusif. Rezim industri musik cenderung menjual gaya-gaya permainan jazz yang mudah dipasarkan tanpa pedulu apakah gaya-gaya permainan yang ditampilkan merupakan gaya-gaya permainan sentral dalam perkembangan jazz atau hanya pinggiran. Bahkan rezim ini cenderung mengeksploitasi simbol modernitas, kehidupan kampus dan eksklusifme dalam memasarka musik jazz. Sebagai contoh merebaknya jazz jenis fusion di tanah air diduga akibat dari cara sosialisasi seperti itu.Sedang argumen yang mengatakan bahwa jazz memiliki sofistikasi sehingga memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih tinggi dari pada memahami musik non jazz adalah sebuah klaim yang sewenang-wenang. Musik tidak semata-mata di pahami melalui rasio tetapi juga dapat melalui rasa dan cenderung lebih merupakan akibat dari kostruksi sosial sebuah komunitas. Mengapa dangdut lebih memasyarakat dari pada jazz ? Jawabannya adalah bahwa harmoni dangdut sudah di sosialisasikan sejak lama sehingga embedded dalam kultur kita, sementara musik jazz lebih merupakan bentuk transplantasi kebudayaan musik dari dunia luar. Akibatnya jazz menjadi asing bagi sebagian lapisan masyarakat bawah yang tidak memiliki akses (baik kapital budaya, sosial maupun ekonomi), tetapi tidak asing bagi lapisan menengah - atas yang memilikinya.

Dr. Heru Nugroho
Sumber : Down Beat, Jazz Book (J.E.Berendt)



Read Users' Comments ( 0 )

DILEMA SOSIALISASI MUSIK JAZZ DI INDONESIA

Tulisan ini bersifat menanggapi artikel yang berjudul “Memahami Musik Jazz” yang ditulis oleh Dr. Heru Nugroho. Di sana Dr. Heru ingin menjelaskan bahwa musik jazz bukanlah sebuah musik yang elit dan merupakan musik yang berdimensi pembebasan. Di Indonesia musik jazz masih dianggap sebagai musik elit. Secara prinsip saya sependapat dengan beliau.

Tidak salah bila orang awam menanganggap bahwa musik jazz di Indonesia masih merupakan barang mahal dan elit. Lihat saja realitanya. Saat ini jarang sekali ditemui pertunjukan musik jazz di Indonesia. Kalaupun ada, pertunjukan itu cenderung berlangsung di kafe-kafe atau di hotel berbintang. Mereka yang menikmati adalah kaum borjuis. Event-event jazz juga tidak banyak dilangsungkan, paling-paling hanya JakJazz dan Java Jazz yang diselenggarakan setiap tahun. Hampir tidak ada pertunjukan seperti Luluk Purwanto & The Helsdingen Trio dengan Stage Bus-nya. Show semacam itulah yang sebenarnya adalah The Real Jazz Show yang bersemangatkan kebersamaan dan universalisme.

Musik jazz dianggap elit karena memang tidak banyak penggemarnya. Untuk benar-benar memahami musik jazz juga diperlukan waktu untuk belajar yang cukup lama. Maka cenderung yang menyukai musik jazz adalah orang-orang dari latar belakang pendidikan, seperti mahasiswa dan kalangan akademis lainnya. Tetapi bukan berarti musik selain jazz hanya dinikmati oleh kaum yang tidak terpelajar. Setiap orang dapat menikmati musik jazz.

Salah satu sebab mengapa musik pop atau rick lebih banyak disukai orang adalah karena jenis musik tersebut dapat dengan mudah dihapal. Berbeda dengan musik jazz yang sangat universal. Musik jazz juga bagaikan puisi yang harus diapresiasikan terlebih dahulu untuk dapat dinikmati. Dengan mudah dihapal, orang tidak sulit lagi untuk menikmati musik rock atau pop.

Menjadikan musik jazz bukan sebagai musik yang elit terutamanya adalah melalui sosialisasi. Sosialisasi adalah proses untuk membiasakan orang mendengar dan lebih mengenal musik jazz. Sosialisasi tersebut dapat melalui berbagai bentuk seperti kaset, CD, LD, VCD, majalah, buku dan berbagai macam literatur lain. Sosialisasi harus dilakukan secara rutin dan terus menerus, jangan sampai berhenti ditengah jalan. Sebab sosialisasi juga merupakan proses belajar yang tidak dapat dilakukan sepotong demi sepotong.

Dilema yang terjadi di Indonesia bahwa menikmati musik jazz dijadikan sebagai gaya hidup atau pola hidup seseorang. Ada kalangan tertentu yang terpaksa mendengar musik jazz hanya agar dipandang sebagai kaum borjuis. Hal inilah yang sering terjadi pada kafe-kafe atau pub. Di satu pihak mereka memang melakukan sosialisasi jazz, tetapi di sisi lain mereka menjual gengsi dengan musik jazz sebagai perantaranya. Sosialisasi semacam itu justru merusak citra jazz sebagai musik yang berdimensi pembebasan dan jauh dari kesan glamour.

Demikian pula dengan media sosialisasi yang lain seperti kaset, CD dan VCD. Banyak orang yang sebenarnya ingin tahu lebih jauh tentang musik jazz melalui kaset. Tetapi dilemanya, musik-musik jazz banyak yang hanya terdapat dalam CD yang tentu saja lebih mahal harganya. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan musik jazz dianggap sebagai musik yang membutuhkan biaya mahal.

Keberadaan radio-radio jazz seperti ARH FM di Jakarta, KLCBS di Bandung dan JASS di Garut sangat membantu sosialisasi musik jazz di Indonesia. Maka diharapkan juga semakin banyak frekuensi acara-acara musik jazz di radio atau bahkan di televisi. Untuk melaksanakan ide tersebut tentu saja membutuhkan biaya besar dan sedikit kenekatan mengingat keberadaan musik jazz di Indonesia sebagai minoritas.

Dibandingkan dengan musik rock, musik jazz jauh lebih tua. Tetapi kepopulerannya dirasakan kurang. Itulah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dengan melalui sosialisasi, musik jazz tetap sulit untuk menjadi mayoritas tetapi setidaknya masyarakat mengetahui apa itu jazz.

Untuk dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat seluas-luasnya, maka sosialisasi yang dilakukan juga harus merakyat. Artinya sosialisasi dilakukan dengan melihat komposisi, keadaan dan perilaku masyarakat itu sendiri. Untuk keadaan di Indonesia saat ini, musik jazz-lah yang seharusnya mendekati masyarakat terlebih dahulu. Bila sosialisasi berhasil, maka keadaan di atas akan berbalik dengan sendirinya (masyarakat akan mencari jazz).

Jazz adalah milik semua orang dan bukan monopoli golongan tertentu. Musik jazz diciptakan bukan hanya untuk golongan borjuis, tetapi diciptakan melalui kebersamaan dan untuk semua. Dalam menikmati jazz, sebaiknya dipahami tentang universalisme dan kebersamaan. Jazz bukan musik yang EGOIS.


Read Users' Comments ( 0 )

DEMOKRASI DALAM MUSIK JAZZ

Boleh dibilang dari berbagai jenis musik, Jazz merupakan musik yang paling mementingkan keseimbangan antara penampilan individu dan keutuhan kelompok. Dibandingkan musik jenis lain yang terpola baku, musik jazz lebih menggunakan pola sebagai suatu bentuk kesepakatan kelompok yang dengan konsisten dilaksanakan secara bersama-sama. Namun kesepakatan itu bukanlah merupakan rambu-rambu yang mati, karena diantara rambu-rambu tersebut musik jazz memberi kesempatan pada tiap individu untuk mengajukan pendapat tiap pribadi. Jadilah harmoni yang menjadi ciri khas musik jazz.

Ekspresi individu ini lebih dikenal sebagai improvisasi yang merupakan bagian dari suatu komposisi jazz. Menariknya, Improvisasi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pemain sehingga besar kemungkinan tiap kondisi membuahkan improvisasi yang berbeda-beda. Dari waktu ke waktu merek dagang ini dipertahankan oleh tiap generasi musisi beraliran jazz. Dengan berkembangnya waktu eksplorasi musik jazz semakin kaya. Ambil contoh komposisi Wayne Shorter, Footprint; pada saat Wayne memainkan saxophone-nya untuk melantunkan komposisi ini dapat diterjemahkan berbeda oleh musisi generasi berikutnya yaitu Scott Henderson dengan gitar elektriknya. Bukan cuma improvisasinya saja yang digarap beda oleh Scott, tetapi juga pengolahan notasi dasarnya.

Eksplorasi yang tidak pernah berhenti ini membuat musik jazz menjadi musik yang selalu menarik untuk disimak. Tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan musik jazz adalah musik yang membosankan karena berkesan old fashion. Musik jazz, justru, merupakan musik yang tidak monoton dan memiliki siklus hidup yang panjang sekali. Mungkin dalam hal siklus hidup musik jazz berada pada urutan kedua setelah musik klasik. Artinya, musik jazz dapat juga dikatakan juga sebagai musik yang semi-klasik.

Seringkali jazz diartikan musik yang borjuis musik kaum the haves. Tentu pendapat ini patut ditentang. Kalau kita kembali ke akar musik jazz yang berasal dari Work Song para budak kulit hitam - yang notabene bukan kaum borjuis - perkembangannya pun tidak secara sengaja diarakan ke musik kalangan atas. Memang pada jaman Swing, musik jazz dijadikan pengiring dansa kaum ekonomi atas, namun selanjutnya musik jazz berkembang dari klab-klab kecil di pelosok NewYork, Chicago atau New Orleans. Dari klab-klab kumuh ini musik jazz semakin menguatkan bentuknya sebagai musik yang memiliki sisi hiburan sekaligus sekaligus memiliki sisi apresiasi. Sekedar meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, musik jazz bukan musiknya kaum ekonomi atas, tetapi lebih tepat dikatakan musiknya kaum intelektual tinggi. Perlu digaris bawahi, kaum intelektual tinggi tidak sebentuk dan sebangun dengan kaum ekonomi atas. Bukannya banyak kaum intelektual yang hidup di garis ekonomi pas-pasan?

Fenomena lain dari musik jazz adalah keterbukaannya dengan jenis musik lain. tidak ada kata haram untuk memadukan musik jazz dengan jenis musik lain. Contoh yang nyata adalah di awal tahun 1960an ketika jazz dengan mudahnya berpadu dengan musik bossanova (samba, red) asal Brazil. Atau, ketika musik Art Rock sedang menjamur di tahun 1970-an, jazz dengan luwesnya meramu jazz dan rock menjadi fusion. Rasa ingin tahu musisi jazz, relatif lebih besar dibandingkan dengan musisi dari jenis musik lain. Musik jazz dengan intens menggali musik yang mereka minati. Hal ini banyak terjadi dengan eksplorasi musik etnis, seperti etnis India, Afrika, Amerika Latin atau Asia Timur. Kemudahan musik jazz untuk berpadu dengan musik lain membuat musik jazz mengalami beberapa kali peremajaan yang membuat musik jazz tetap bertahan.

Jika disimak dengan lebih seksama kekhasan musik jazz yang disebut diatas, mungkin kita bisa menyebut musik ini menganut faham demokrasi. Coba kita perhatikan ciri-ciri berikut: kelompok yang memiliki 'aturan-aturan' dengan tetap mengahargai penampilan individu anggotanya, melakukan inovasi untuk mempertahankan keberadaan mereka, dihargai oleh kaum intelektual dari berbagai tingkat ekonomi dan dengan bijaksana membuka diri dari pengaruh luar. Jika ditelaah lebih jauh, jazz sebenarnya merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar musik. Untuk mereka yang kritis, musik jazz dapat dikembangkan menjadi suatu 'credo', misalnya dalam hidup bermasyarakat atau pengembangan diri. Jangan pernah berhenti mengeksplorasi musik jazz. Anda akan mendapat sesuatu yang lebih dari yang anda bayangkan ketika menikmati rekaman jazz. Selamat nikmati jazz dan nikmatilah secara aktif. (WJ)


Chico Hindarto, Pengamat musik jazz/Produser Chico & Ira Productions



Read Users' Comments ( 0 )

JAZZ + ROCK = FUSION ???

Jazz, musik yang sering dianggap musik elite, susah diterima, musik milik generasi tua dan kadang cenderung exclusive karena dinikmati oleh kalangan tertentu saja sebenarnya adalah salah satu jenis musik yang selalu berkembang menyesuaikan jaman. Sejak diperkenalkan musik jazz sebelum perang dunia I sampai sekarang, musik jazz senantiasa berkembang mengikuti selera pemusik dan penikmatnya bahkan oleh kaum muda yang gemar musik rock-pun, musik jazz dituntut untuk berubah dan berkembang.

Perkembangan dan perubahan sejarah dunia musik pada dekade tahun 60 an merupakan suatu catatan besar dalam dunia musik, pada pertengahan tahun 60 an dimana musik rock'n roll, soul dan blues mencapai klimaksnya membuat generasi muda saat itu mulai meninggalkan musik jazz, mereka para generasi muda sangat memuja musik rock dan bahkan mendewakan para musisinya. Apakah kekuasaan musik rock pada jaman itu mampu meruntuhkan semangat dan konsep bermain para musisi jazz? Ternyata tidak.Beberapa musisi muda yang sebelumya pernah bermain sebagai pendukung para tokoh jazz terkenal seperti saxophonist Wayne Shorter dan pianis Joe Zawinul yang mendukung Miles Davis pada album Bitches Brew membentuk group legendaris The Weather Report pada tahun 1971, juga gitaris John McLaughlin yang pada awal kemunculannya sempat bermain blues saat mendukung Alexis Korner dan Graham Bond, dan menjadi pendukung pada album Miles Davis In A Silent Way dan Bitches Brew, akhirnya melejit disaat membentuk groupnya sendiri Mahavishnu Orchestra bersama Billy Cobham, Jan Hammer dan Jerry Goodman. Para musisi muda yang bermain jazz itu mulai memainkan jenis musik baru yang disebut FUSION, suatu jenis musik jazz yang disebut bercampur rock, blues, soul, latin dan kadang dicampur etnik musik seperti ditunjukkan oleh John McLaughlin pada solo albumnya. Andil musisi legendaris Miles Davis pada kelahiran jazz fusion amat besar, sebab dialah yang mendominasi awal kemunculan jazz fusion. Coba simak album Miles Davis Bitches Brew dan In A Silent Way atau Filles de Kilimanjaro. Kemunculan album Miles Davis pada akhir tahun 60 an tersebut dapat diterima oleh generasi muda yang sebelumnya menggemari musik rock. dAn langkah besar Miles Davis dalam jazz fusion segera diikuti oleh jazzer muda seperti Chick Corea, Herbie Hancock, Billy Cobham, Herbie Mann serta puluhan bahkan ratusan lainnya yang memainkan jazz fusion hingga sekarang. Dalam perjalanannya musik jazz ternyata semakin digemari oleh para rocker yang sebelumnya juga pernah bermain musik blues seperti Jon Hiseman, drumer pendiri group Colosseum, Steve Morse si gitaris pendiri group Dixie Dregs, yang pernah mendukung group Kansas dan terakhir bermain di Deep Purple. Dan pada tahun 70 an bermunculan group yang memainkan jazz rock, yang bermainnya lebih keras lagi dari jazz fusion karena permainnya sudah banyak menghilangkan alat-alat musik akustik. Walaupun kadang group jazz rock yang muncul itu memainkan alat musik akustik, namun tetap terasa beda dengan yng masih murni memainkan jazz fusion. Perbedaan yang ada tentunya dengan menyimak album-album dari group atau musisi yang pernah dirilis.

Beberapa group yang pernah dan sampai sekarang ada yang masih bertahan memainkan jazz fusion atau jazz rock tersebut diantaranya : Weather Report, Return To Forever, Mahavishnu Orchestra, Ben, Nucleus, Brand X, Back Door, colosseum, Blood, Sweat & Tears, Dixie Dregs, Fire Merchant, Mezzoforte, Spyrogyra, serta beberapa lagi lainnya yang timbul tenggelam seiring dengan kesuksesan album yang digarapnya.
Jika kita meneliti nama-nama group yang disebutkan di atas, kemudian timbul sikap tidak menyetujui beberapa nama yang tercantum karena kurang bisa diterima dengan berbagai alasan terutama yang umum dilontarkan adalah kadar musik jazz yang dimainkan oleh group tersebut meragukan. Sikap ini sangat bisa diterima dan bahkan bisa dimaklumi, karena sejak kemunculannya hingga saat ini jazz fusion maupun jazz rock masih menjadi bahan pertentangan para kritisi musik ataupun penggemar musik jazz. Sebagian besar penggemar musik jazz terutama dari jenis New Orleans Style, Chicago & New York Style, Swing, Bebop, Cool jazz, Hard bop, Jazz funk maupun Mainstream agaknya merupakan kelompok yang kurang bisa menerima permainan keras dari jenis jazz fusion ataupun jazz rock. Sebaliknya dikalangan penggemar musik rock, kehadiran jazz fusion atau jazz rock merupakan suatu "makanan baru" yang berbeda dengan yang biasa mereka dengarkan atau dimainkan. Menu baru itu bagi kalangan penggemar musik rock menjadi santapan yang tidak kalah lezatnya dengan jenis musik rock yang lain seperti hard rock, progresive rock sampai jenis terbaru seperti death metal, grunge, trash metel dan sebagainya. Dan akibat dari perbedaan pendapat tersebut, nasib dari group maupun musisi yang memainkan jazz fusion atau jazz rock menjadi tidak mementu karena sebagian kritisi, penggemar maupun editor musik jazz dengan tegas menolak kehadiran mereka dalam catatan maupun daftar koleksinya, dan sebagian lagi mencantumkan nama-nama group maupun musisinya di dalam daftar musik jazz, dari nama groupyang tersebut di atas agaknya yang bisa diterima secara luas oleh kalangan penggemar musik jazz adlah Weather Report, Return To Forever dan Mahavishnu Orchestra, sedangkan yang lainnya kelihatannya masih harus terus berjuang keras agar bisa diakui sebagai group jazz seperti ketiga group yang dikomandani oleh jazzer kondang tersebut. Dan dikalangan penggemar musik rock nama-nama group tersebut tampaknya juga masih kurang populer, kecuali bagi mereka yang memang menyukai musik rock dan juga menyukai jazz fusion atau jazz rock.

Disadari atau tidak kehadiran jazz fusion atau jazz rock ternyata memberi nuansa tersendiri bagi musik jazz maupun rock, dan tidak aneh bila kita jumpai group rock yang jelas konsep musiknya tiba-tiba terasa lebih berbau jazz karena adanya personil jazz yang masuk bergabung seperti yang ditunjukkan oleh group progresive rock Soft Machine pada albumnya Fourth tahun 1973 hingga Soft karena masuknya bassist jazz Roy Babington, dan walauoun lebih terasa jazz daripada rock, namun tidak sampai mengubah konsep musik group Soft Machine. Sang pemusik legendaris Miles Davis bisa tersenyum bangga di alam baka, karena upayanya mengusung jazz fusion diakhir tahun 60 an ternyata memberikan sumbangan yang besar untuk kalangan penggemar musik jazz dan rock sekaligus, kerja besar membangun jazz fusion tetap dipertahankan dan bahkan semakin dikembangkan oleh para musisi muda meskipun dengan resiko tidak diakui sebagai jazzer. Dan ironisnya yang terjadi selama ini malahan banyak group maupun musisi yang belum jelas konsep musiknya justru disebut sebagai group jazz atau jazzer hanya karena memainkan nada-nada musik jazz disetiap albumnya. Kelompok atau musisi yang sering disebut jazzer tersebut contohnya, Casiopea dari Jepang, Shakatak dari Inggris dan Michael Frank yang cukup terkenal di negara kita. Menyimak perkembangan yang ada tersebut menuntut kita lebih arif dalam menyikapi jenis-jenis musik yang dimainkan oleh masing-masing musisi, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kita dapat memerima mereka sebagai suatu aliran yang baru dalam musik jazz.

Jazz Fusion atau Jazz Rock sama seperti aliran jazz yang lain dan merupakan suatu rangkaian anak tangga menuju dunia musik jazz yang tanpa batas, dan apabila kita sudah menginjak anak tangga fusion atau jazz rock, kenapa kita tidak meneruskannya menapak ke atas menikmati anak tangga demi anak tangga yang masing-masing membawa jenis musik jazz yang perlu untuk dikenal dan dinikmati baik untuk dimainkan ataupun didengarkan! Ibarat suatu rangkaian peralatan audio canggih, jazz fusion atau jazz rock adalah conector berlapis emas murni yang menghubungkan musik jazz dengan musik rock ataupun jenis musik lainnya. Dan kalau kita sudah mengenal conectornya rasanya sia-sia kalau kita tidak memainkan peralatannya! juga sia-sia kalau kita tidak mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana musik jazz itu?


(Yusuf Giwangkoro, pemerhati musik bertempat tinggal di Surabaya



Read Users' Comments ( 0 )