Tampilkan postingan dengan label Moviegoers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moviegoers. Tampilkan semua postingan

Angels and Demons

Ketika terjadi sebuah pembunuhan terhadap seorang ahli fisika Italia, Leonardo Vetra, Robert Langdon kembali beraksi bersama anak sang korban, Vittoria Vetra untuk mengungkapkan misteri di balik perkumpulan rahasia The lluminati. Berbagai petunjuk menuntun mereka ke segala penjuru Vatican, termasuk empat altar pengetahuan: Tanah, Udara, Air dan Api.

Seorang pembunuh bayaran yang bekerja untuk The Illuminati, telah membunuh secara keji keempat calon pengganti Paus. Misteri itu juga menuntun mereka untuk mengungkap sumber energi terhebat yang dapat digunakan sebagai senjata pembunuh massal yang dapat membunuh jutaan orang.

Angels & Demons merupakan novel ketiga Dan Brown, dan walaupun pada novel ini merupakan prequel dari The Da Vinci Code, tetapi sang sutradara Ron Howard membuat film ini sebagai sequel dari film sebelumnya. Apakah sequel ini dapat membuat sensasi seperti film The Da Vinci Code?


Pemain:
Tom Hanks ... Robert Langdon
Ayelet Zurer ... Vittoria Vetra
Ewan McGregor ... Carlo Ventresca
Stellan SkarsgÄrd ... Richter
David Pasquesi ... Vincenzi
Victor Alfieri ... Lieutenant Valenti
Cosimo Fusco ... Father Simeon
Allen Dula ... Vatican Police
Sutradara:Ron Howard
Produser:Brian Grazer, John Calley
Produksi:Columbia Pictures
Durasi:140menit



Read Users' Comments ( 0 )

AMELIE,Dari Montmarte..Amelie Menyapa Hidup

Sutradara: Jean-Pierre Jeunet
Skenario: Jean-Pierre Jeunet
Pemain: Audrey Tautou, Dominique Pinon, Madeleine Wallace
Produksi/Distributor: Miramax Film

Sebuah kotak kecil setengah berkarat berusia puluhan tahun itu berisi sejarah seorang lelaki tua. Isinya adalah foto-foto lama, kelereng kemenangan, dan beberapa benda remeh-temeh lainnya. Tetapi kotak kecil setengah berkarat itu berisi kebahagiaan sebuah masa lalu. Dan ketika Amelie Poulain (Audrey Tautou) menemukan kotak itu di dinding kamar mandi, ia membuka gulungan ingatan sang lelaki yang tak dikenalnya itu. Amelie berburu, mencari sang pemilik. Saat sang lelaki itu menemukan kotak itu, ia menemukan kembali masa kecil yang begitu indah. Dan kebahagiaan kecil itu memberi sebuah inspirasi bagi Amelie. Ia bisa membahagiakan orang lain hanya dengan setetes kebaikan.

Film yang mendapat beberapa nominasi Academy Award itu—termasuk nominasi Film Asing Terbaik—tidak hanya istimewa karena menampilkan dongeng komedi-tragik yang offbeat, manis, dan orisinal, tetapi juga film ini adalah sebuah pesta visual yang paling imajinatif.

Amelie, yang sejak kecil memulai hidupnya dengan tragedi (ibunya tewas dan ayahnya seorang dokter yang reklusif), tak kunjung bisa beranjak ke luar pagar rumahnya—Amelie memang tak tumbuh sebagaimana wanita muda lazimnya. Dia manis, berwajah lucu, dan wajahnya penuh dengan strategi muslihat untuk memenuhi hari-harinya dengan ”program kebahagiaan” penduduk Montmarte di Paris: menjodohkan teman sejawat di tempatnya bekerja, Georgette (Isabelle Nanty), dengan Joseph, salah seorang pelanggan kafe itu; menulis surat (palsu) bagi seorang istri yang puluhan tahun dikihianati suaminya; berdiskusi dengan tetangganya, seorang pelukis tua yang penyakitan; mendorong ayahnya agar berani melakukan perjalanan jauh.

Semuanya digambarkan dengan montase adegan-adegan yang penuh warna, gerak kamera yang ”gila-gilaan” hingga kamera seolah bercinta dengan kehidupan; dan yang lebih penting lagi dikisahkan melalui sebuah suara ”pendongeng”—teknik voiceover—yang dengan passionate memperkenalkan setiap karakter: ”Joseph adalah seorang sosok pencemburu patologis....”

Tetapi Amelie tidak hanya meng-ganjar hidup warga Paris dengan kebahagiaan. Mereka yang keji pun men-dapatkan ”hukuman” setimpal. Seorang tukang sayur yang selalu bersikap kasar kepada anak buahnya lantas menerima ganjaran berupa gangguan-gangguan ”kecil” di dalam apartemennya. Amelie, akhirnya, memang menjadi seperti malaikat kecil yang melakukan intervensi dalam hidup warga di sekelilingnya. Namun ia kemudian tak mampu meng-atur hidupnya sendiri ketika jatuh cinta pada Nino Quincampoix (Mathieu Kassovitz), seorang pekerja di toko video porno Palace Video, King of Porno”, dan paruh waktu bekerja di rumah hantu di taman ria Paris. Amelie terhirup oleh pesona ganjil pria yang gemar mengumpulkan pasfoto yang terbuang-buang.

Cintanya yang merekah tak bisa dibendung dan tak bisa diatur seperti halnya dia mengatur nasib orang lain. Lalu, bagaimana dia akhirnya bisa merengkuh pria misterius itu?

Sutradara Jeunet berhasil menyelesaikan semua persoalan itu dengan manis, menyenangkan, tanpa harus menjadi cengeng dan klise. Dengan karakter yang eklektik, kompleks, dan tak selalu harus tampil sempurna—tapi toh penuh rasa kasih dan ketulusan—Jeunet bak seorang pelukis yang mengerahkan seluruh kemampuan visualnya di atas kanvas bernama kehidupan. Amelie adalah kuasnya, dan kita adalah ribuan pasang mata yang mengikuti arah gerak kuas itu. Kesendirian Amelie diisi oleh kebaikan-kebaikan, hingga Amelie merasa hidupnya lebih bermakna.

Melalui Amelie, yang semula hidup dalam tragedi dan sepi, kita tetap diperkenalkan bahwa hidup yang kelabu toh masih memiliki harapan dan senyum.

(Dari Majalah TEMPO Edisi. 06/XXXI/08 - 14 April 2002)


Read Users' Comments ( 1 )

THE READER,Menikmati Seni Peran Kate Winslet

Sutradara: Stephen Daldry
Skenario: David Hare
Berdasarkan novel karya Bernhard Schlink Pemain: Kate Winslet, Ralph Fiennes


Di bawah tumpah ruah hujan yang deras, seorang lelaki remaja yang ringkih duduk terisak-isak di tepi jalan. Seorang perempuan dewasa yang cantik segera saja datang dan bak seorang induk burung, dia melebarkan sayapnya, menyelimuti tubuh remaja berusia 15 tahun itu. Anak lelaki yang putih, pucat, penikmat karya sastra yang luar biasa, sementara hormon tubuhnya tengah bergelembung berkelojotan itu bernama Michael Berg (David Kross). Wanita dewasa itu adalah Hanna Schmitz (Kate Winslet).

Mereka kemudian terlibat dalam sebuah hubungan yang begitu rahasia, gelap, dan ”satu arah”. Tentu saja Hanna yang menentukan, kapan mereka bercinta; kapan Michael membacakan novel-novel sastra dan untuk kemudian bercinta lagi; kapan mereka mandi bersama. Hanna tak pernah memberi tahu namanya; dan Michael menganggap jam-jam bersama dengan Hanna adalah sebuah kebutuhan seluruh jiwa raganya.

Hingga akhirnya suatu hari, Hanna mendapat promosi, sebuah pekerjaan yang akan ”memaksa”-nya untuk berurusan dengan membaca dan menulis. Hanna menghilang, Michael melalui duka lara yang panjang.

Film yang dimulai dengan masa kini, di mana Michael Berg diperankan oleh Ralph Fiennes, menggunakan teknis kilas balik masa lalu sebagai plot utama. Perlahan, kita mempelajari mengapa Hanna menolak untuk membaca sendiri karya-karya sastra yang mengelus telinganya sebelum dia bercinta dengan remaja berkulit seperti bayi itu. Suatu adegan yang aneh, sensualitas yang mengundang simpati; karena di balik sosok keras Hanna, dia menyimpan rahasia yang tak pernah kita ketahui hingga akhir cerita.

Hanya setelah Michael Berg menjadi mahasiswa hukum yang bertugas menyaksikan pengadilan para penjahat kriminal yang terlibat dalam Holocaust, Michael bertemu kembali dengan Hanna. Dia dituduh sebagai salah satu penjaga kamp konsentrasi warga Yahudi. Tapi ini bukanlah kejutan utama dari seluruh film. Bagaimana Kate Winslet yang kini sudah paruh baya itu menjawab pertanyaan hakim dengan penuh keyakinan: ”Ini pekerjaan saya, itu yang harus saya lakukan.” Dan dia tidak berbohong. Ruang pengadilan itu sunyi bukan karena mereka merasa diri lebih suci daripada sang terdakwa, tetapi justru mereka terperangah menyadari betapa sosok ini tampak lurus dan teguh menjalankan tugasnya dengan patuh dan militan, tanpa pertimbangan apa pun kecuali: kerja.

Kate Winslet yang memerankan seorang wanita dari usia 40-an hingga akhir hayatnya yang tua renta itu, tak bisa tidak, memang layak mendapatkan gelar aktris terbaik Academy Awards tahun ini, bahkan melampaui Merryl Streep dalam film Doubt yang juga mendapat nominasi dalam kategori yang sama. David Kross sebagai Michael di masa remaja juga menampilkan seni peran yang menyentuh. Film ini sebetulnya bukan film tentang Holocaust, tetapi tentang coming of age seorang Michael Berg di masa gelap Eropa. Sekali lagi, sutradara Stephen Daldry, setelah film The Hours yang berhasil merebut pesona tanpa sisa, kini berhasil menjadi penutur yang ulung; jauh lebih ulung dari pemilik cerita asli, sang novelis Bernhard Schlink. Tapi harus dimaklumi, dunia tengah mabuk oleh Slumdog Millionaire, yang sudah terduga akan merebut pusat panggung.

(Dari Majalah TEMPO Edisi 02/XXXVIII 02 Maret 2009)


Read Users' Comments ( 1 )

GENERASI BIRU,Kenyang tapi Tak Terpuaskan

Sutradara: Garin Nugroho, John de Rantau, Dosy Omar
Ide/konsep: Garin Nugroho
Pemain: Bimbim Slank, Kaka Slank, Abdee Slank, Ridho Slank, Ivanka Slank, Nadine Chandrawinata
Koreografer: Eko Supriyanto, Jecko Siompo, Davit, Yayu Aw Unru
Animator: Terra Bajraghosa, Rizky Zulman, Geppeto, Red Rocket.
Produksi: SET Film Workshop


SEORANG anggota intelijen di Batam, yang namanya dituliskan dengan jelas di layar lebar, mengaku sebagai Slankers—sebutan bagi komunitas penggemar Slank. ”Ada yang mulanya tidak percaya kalau saya Slankers,” ujar sang intel terkekeh-kekeh sambil mengeluarkan i-Pod dari saku jaketnya. ”Setelah saya tunjukkan foto saya dengan anggota Slank di sini, baru pada percaya.”

Sebentar. Dengan pembukaan film seperti itu, plus adegan konvoi para Slankers di pelbagai kota, termasuk di Dili, Timor Leste, dengan Perdana Menteri Xanana Gusmao berpidato di depan ribuan Slankers setempat, jangan lekas mengambil kesimpulan bahwa ini sebuah film dokumenter tentang Slank, kuintet yang pada Desember lalu merayakan ulang tahun ke-25 itu.

Setelah itu layar berubah menjadi lanskap panoramik dengan beragam tampilan animasi, sebelum bermetamorfosis bak panggung tari dengan belasan koreografi dan properti, lalu kembali dipadati dengan potongan dokumentasi. Lalu, nah ini dia, kelima anggota Slank muncul bergantian di layar lebar, kadang bersamaan, kadang sendirian (terutama Kaka, sang vokalis, yang paling sering tampil. Mungkin karena otot six-pack perutnya yang pejal terlihat bagus di lensa kamera).

Pola ”adegan sandwich” ini berulang terus sampai film berakhir, dengan lagu-lagu Slank sambung-menyambung (hampir) menjadi satu dari 16 album mereka. Di banyak adegan, mantan Putri Indonesia Nadine Chandrawinata muncul sebagai tokoh, majas, penari, primadona, pengiring, tokoh lagi (dan berbagi frame dengan Kaka).

Inilah Generasi Biru, film musikal tentang salah satu band fenomenal di Tanah Air yang konon mempunyai fan loyal (Slankers) 10 persen penduduk Indonesia. Itu berarti, ada sedikitnya 20 juta calon penonton diharapkan siap berjubel antre untuk melihat film tentang idola mereka yang dibesut tiga sutradara, yakni Garin Nugroho, John de Rantau, dan Dosy Omar (dokumenter). Bahkan, jika separuh saja dari jumlah Slanker dapat digaet masuk bioskop, Generasi Biru diharapkan bisa membuat tren film hantu kembali masuk ”kubur”. Nyatanya tidak. Penonton tidak berjubel.

Dan Garin dan John (sebagai sutradara ”fiksi” di film ini) juga tak hendak bertutur pada penonton. Film yang menurut Garin Nugroho tidak menggunakan skenario—tapi menggunakan ”ide dan konsep” saja—itu akhirnya bukan sesuatu yang asyik ditonton, jauh dari musik Slank yang asyik dinikmati.

Film ini berkisah tentang lima anak yang lari dari situasi penuh keseragaman dan aturan. Mereka ingin mencari sebuah pulau kebebasan yang mereka namakan sebagai Pulau Biru. Perjalanan mencari pulau biru itu akhirnya menjadi semacam pengembaraan dari pulau ke pulau. Dari pulau seragam (zaman Soeharto, 1985-1990), pulau virus, hedonis, dan obat-obatan (1990-1998), pulau gerak (reformasi, 1998-2001), dan pulau gosip (2001-2008). Untunglah, setiap kali mereka tersandung, terjerembap di satu pulau tertentu, selalu ada seorang ibu yang selalu mengikuti mereka. Dan kehidupan nyata Slank, figur ibu itu adalah Bunda Iffet Sidharta, ibu Bimbim dan sang manajer yang setia.

Sayang, dengan materi cerita yang menarik ini Generasi Biru gagal mendekati kekuatan biopic—ini sebutan untuk jenis biographical motion picture—The Doors (Oliver Stone, 1991), yang mempunyai alur pengisahan serupa; atau kedalaman maknawi The Walls (Alan Parker, 1982), yang skenarionya ditulis langsung oleh pemain bas Pink Floyd, Roger Waters, dalam kekayaan metafor yang mengagumkan. Bahkan dibandingkan dengan film Kantata Takwa yang beredar tahun lalu dan hanya mengandalkan sisa-sisa dokumentasi yang masih layak tayang, film Generasi Biru terasa seperti sepinggan makanan dengan isi yang terlampau bervariasi sehingga membuat penonton merasa kenyang—tapi tak terpuaskan.

(Dari Majalah TEMPO Edisi 03/XXXVIII 09 Maret 2009)


Read Users' Comments ( 1 )

VALKYRIE,Upaya Membunuh Sang Fuhrer

Sutradara: Bryan Singer
Skenario: Christopher McQuarrie
Pemain: Tom Cruise, Kenneth Branagh, Bill Nighy, Tom Wilkinson
Produksi: MGM


JIKA ingin menyaksikan film ini, sejak awal, Anda harus membuang dua harapan besar. Pertama, jangan memasukkan kejengkelan Anda terhadap Tom Cruise (yang di media Barat sering digambarkan sebagai aktor/produser yang memiliki ego setinggi gunung); perlakukan dia sebagai aktor saja. Jangan pusingkan tingkahnya di sofa Oprah Winfrey. Kedua, jangan mempersoalkan apakah film ini akan masuk festival film mana pun (sudah jelas Academy Award juga tak meliriknya). Nah, setelah ”membuang” dua hal itu, dengan asyik kita bisa menikmati petualangan sejarah ini hampir sama serunya seperti sebuah thriller detektif.

Syahdan, pada pertengahan 1943, seluruh dunia tampak cemas oleh Jerman. Kebuasan dan brutalitas Adolf Hitler itu telah melahirkan berbagai kelompok resistensi dan gerombolan jenderal yang ingin membunuhnya. Semua upaya itu gagal. Hitler telah membangun mesin pembela bernama SS yang luar biasa kejam dan efektif. Fasisme bekerja dengan keras, mantap, dan rajin memberikan oli pada semua sekrup dan onderdil setiap hari.

Pada Agustus tahun yang sama, setelah mengalami luka besar di Afrika Utara, Kolonel Count Claus von Stauffenberg (Tom Cruise) kembali ke Jerman dalam keadaan serba ”setengah”. Matanya hilang sebelah (dan untuk selanjutnya dia mengenakan bola mata palsu) dan tangannya hilang sebelah (untuk selanjutnya, setiap kali dia mengucapkan ”Hail Hitler!”, tangannya yang menonjok udara itu hanya tinggal sebelah). Tapi, dengan tubuh yang tak utuh, hatinya justru sudah lebih dari utuh untuk bergabung dengan para jenderal dan politikus yang berniat membunuh Hitler. Seorang suami yang santun, ayah yang berbakti, dan penganut Katolik yang taat, Stauffenberg sudah mencapai sebuah kesimpulan bahwa ”tidak membunuh Hitler adalah sebuah dosa”.

Stauffenberg menjadi kepala operasi. Dia mengusulkan pelaksanaan sebuah undang-undang darurat yang disebut Operasi Valkyrie, yang berisi: jika Hitler tewas karena satu dan lain hal, pasukan elite cadangan di bawah pimpinan Jenderal Friedrich Fromm (Tom Wilkinson) mengambil alih keamanan Jerman. Maka para jenderal membuat strategi. Stauffenberg membunuh Hitler, dan berita kematian diumumkan. Pasukan Fromm akan diperintahkan menangkap SS; dengan demikian, semua mesin Hitler akan lumpuh.

Paling tidak, rencana itu terdengar masuk akal, dan akan bisa berjalan mulus jika tak ada mata rantai yang putus.

Sejarah sudah menunjukkan bahwa akhirnya semua pemberontakan selalu ditumpaskan oleh Hitler. Maka sutradara Bryan Singer tak bisa bertumpu pada suspens—terutama jika penontonnya adalah orang yang memahami sejarah.

Pengkhianat selalu ada di ujung kuku kita. Sejak awal, Jenderal Fromm sudah menegaskan bahwa dia hanya akan mau bergabung dalam upaya kudeta dan pembunuhan ini hanya jika mereka semua yakin Hitler sudah dapat dibunuh. Selama sang Fuhrer masih hidup, dia tak akan berani mengkhianati pemimpinnya yang brutal itu.

Kalau kita terlalu serius mengutak-atik elemen film ini, film akan menjadi satu problem besarw. Dimulai dari aksen semua pemain yang campur-baur. Tom Cruise dengan santai tetap saja berbahasa Inggris dengan aksen Amerika. Para aktor lain, seperti Kenneth Branagh dan Bill Nighy, yang berperan sebagai dua dari kelompok jenderal yang sejak awal menentang Hitler, tetap bertahan pada aksen Inggrisnya. Aroma Jerman dan Nazi cukup digambarkan dengan bangunan gedung dan seragam SS yang dingin.

Tapi, begitu kita betul-betul menganggap ini film hiburan yang berupaya memberikan informasi bahwa tak semua orang Jerman adalah pengikut yang bernama Hitler, dengan mudah kita mengikuti semua gerak-gerik konspirasi itu. Berdebar ketika Stauffenberg membawa seperangkat bom ke dalam ruang rapat tempat Hitler mendengarkan briefing dari para jenderalnya

Bom berhasil meledak. Tapi sutradara Bryan Singer tahu bagaimana cara membuat penasaran terus-menerus berdebar. Apakah Hitler tewas? Apakah bom itu berhasil melukainya? Suasana itu dipertahankan terus-menerus. Meski kita mafhum karena membaca sejarah, kita ingin sekali mencari tahu bagaimana akhirnya Stauffenberg dan timnya mengetahui hasilnya. Bagaimana akhirnya tentara SS yang semula mulai ditahan berbalik menahan para jenderal. Dan bagaimana para jenderal akhirnya mencoba mempertahankan diri hingga titik darah penghabisan. Kita juga ingin tahu sosok pengkhianat seperti Jenderal Fromm (yang lahir dalam setiap perjuangan) berakhir pada kematian macam apa, dan di tangan siapa.

Sekali lagi, kita memperlakukan film ini mirip film thriller dengan setting sejarah saja. Good guy, bad guy, semuanya jelas. Pengkhianat akan kelihatan dengan segera dan itulah sosok yang paling menghibur di layar film ini.


Read Users' Comments ( 0 )

'MILK', Perjuangan Seorang Tokoh Kontroversial

Sutradara: Gus van Sant
Skenario: Dustin Lance Black
Pemain: Sean Penn, James Franco, Josh Brolin, Emile Hirsch



Jauh sebelum Obama menjadi kosakata dunia, nun di San Francisco pada 1970-an ada Harvey Milk. Milk identik dengan sebongkah harapan, yang meniupkan roh kepada San Francisco—dan Amerika—tentang persamaan hak. Pidatonya tentang harapan kaum gay yang mengalami diskriminasi pada 1970-an di Amerika, keberaniannya mencalonkan diri sebagai anggota dewan penasihat di pemerintah daerah adalah terobosan pada masanya.

Kisah hidup tokoh politik yang tewas ditembak karena memperjuangkan hak kaum gay ini sudah pernah kita saksikan dalam film dokumenter The Times of Harvey Milk karya Robert Epstein (1984). Kali ini sutradara Gus van Sant mengangkat Milk sebagai orang yang tak kunjung capek untuk terus berpolitik, dan sebagai seorang pribadi.

Dengan warna-warni suram yang memberikan aroma tahun 1970-an, Van Sant memulai filmnya saat Harvey Milik (Sean Penn) berbicara di depan mikrofon merekam suaranya sendiri, soliter, tentang kehidupannya. Dia sudah diancam berkali-kali oleh berbagai jenis makhluk. Tapi Milk tak gentar. Kalimatnya, ”If a bullet should enter my brain, let the bullet destroy every closet door,” menjadi kalimat yang membius hingga kini untuk tidak jatuh cengeng serta terus melawan kebijakan dan perlakuan yang diskriminatif.

Kamera kemudian meloncat pada pertemuan pertama Milk dengan Scott Smith (James Franco, yang tampil hangat, tampan, dan penuh simpati). Mereka pindah dari New York ke San Francisco. Di Jalan Castro, mereka mendirikan sebuah toko kamera yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat nongkrong para aktivis gay yang ikut membicarakan dan merencanakan perlawanan bagi kebijakan yang diskriminatif.

Van Sant, yang pernah menghasilkan film-film dengan aroma indie, seperti My Own Private Idaho dan Drugstore Cowboy, serta film yang lebih masuk kategori mainstream, seperti To Die For dan Good Will Hunting, terlihat gairahnya mencapai titik tertinggi dalam film Milk. Sean Penn jelas telah hilang total karena dia telah menjelma menjadi sosok Harvey Milk. Suara, bahasa tubuh, hingga kemesraannya dengan sang kekasih yang bukan persoalan erotisme belaka tetapi lebih menunjukkan intimasi yang mengharukan itu menunjukkan Penn adalah aktor kelas satu yang memang layak mendapatkan Oscar tahun ini sebagai aktor terbaik.

Pemain pendukungnya antara lain Josh Brolin, yang tampil sebagai Dan White, lawan politik yang memiliki gejolak yang ganjil, antara ”membenci” dan ”menyukai” geng Milk ini; Emile Hirsch, yang tampil sebagai gay remaja yang semula tengil dan akhirnya bergabung dalam perjuangan ini; dan James Franco, kekasih Milk yang setia tetapi tak tahan hidup didera mesin politik.

Milk tewas ditembak. Ini sudah diketahui sejak awal cerita, karena Van Sant bukan mencoba membuat sebuah cerita thriller-suspense. Dia ingin menampilkan bagaimana seorang aktivis-politikus gay yang sempat hidup sebentar itu, yang tahu bahwa dirinya akan menjadi sasaran peluru, lebih peduli agar suaranya bisa didengar.

Anda merasa persoalan gay bukan urusan kita? Cerita yang terlalu jadul? Persoalan diskriminasi (terhadap perbedaan orientasi seksual, warna kulit, gender, atau apa pun) adalah persoalan semua orang dan masih menjadi problem besar saat ini.

(Dari Majalah TEMPO Edisi 02/XXXVIII 02 Maret 2009)


Read Users' Comments ( 1 )

Sutradara: David Fincher
Skenario: Eric Roth dan Robin Swicord
Berdasarkan cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald
Pemain: Brad Pitt, Cate Blanchett, Tilda Swinton, Elle Danning, Julia Ormond
Produksi: Paramount Pictures dan Warner Bross, Kennedy/Marshall Production

Menjadi Tua kadang merupakan masalah bagi beberapa orang. Ada yang tak bisa menerima proses alami ini dan berusaha menghentikan atau
Proses penuaan kadang memperlambatnya. Namun bagaimana seandainya ada yang bisa membalik proses ini? Apakah semua masalah lantas selesai?

Benjamin Button (Brad Pitt) terlahir di tahun 1860. Kelahiran bocah ini tergolong kasus yang sangat aneh. Beberapa jam setelah kelahirannya, Benjamin berubah menjadi pria berusia tujuh puluh tahun. Kejadian aneh ini berusaha ditutupi oleh orang tua Benjamin yang merasa malu dengan kejadian aneh ini.

Yang lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Benjamin ternyata mengalami pembalikan proses penuaan. Dari usia tujuh puluh tahun, perlahan Benjamin tumbuh menjadi lebih muda. Proses pembalikan usia ini ternyata malah membuat kehidupan Benjamin menjadi lebih rumit. Keadaan jadi semakin sulit setelah Benjamin menikah dan memiliki putra. Bukannya tumbuh menjadi makin tua, Benjamin malah menjadi semakin muda dan akhirnya kembali menjadi anak-anak.

THE CURIOUS CASE OF BENJAMIN BUTTON

Film hasil besutan sutradara David Fincher ini diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald dengan judul yang sama. Meski berkisah tentang sesuatu yang tak mungkin terjadi, sebenarnya film ini bicara tentang hakikat kehidupan dan apa yang dialami manusia sedari ia lahir hingga berakhir di liang kubur. Dan lebih dari itu semua, film ini bicara tentang cinta.

Untuk menuangkan cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini sang sutradara memerlukan durasi sepanjang 166 menit. Ini tak mengherankan karena sang sutradara agaknya tak mau 'terburu-buru' dalam menuturkan kisah ini. Efek yang ingin dicapai memang bukan sekedar menceritakan kasus aneh yang dialami Benjamin Button namun lebih pada proses perubahan fisik dan mental yang dialami Benjamin agar penonton bisa ikut merenungi pergulatan batin yang dialami sang tokoh utama.

THE CURIOUS CASE OF BENJAMIN BUTTON

Memang film ini bukan termasuk film 'hiburan' dalam artian Anda bisa menikmatinya tanpa harus menggunakan otak sama sekali. Malahan dengan durasi hampir dua setengah jam, film ini cenderung jadi sebuah aktivitas yang cukup melelahkan. Untungnya film ini tak jadi membosankan karena baik suguhan visual effect hingga akting para pemainnya mampu mengusir kebosanan dan membuat penonton tetap bertahan hingga akhir film. Dan dengan pola penuturan kisah yang baik dan penyutradaraan yang brilian, jelas film ini jadi sebuah tontonan yang tak boleh dilewatkan.



Read Users' Comments ( 0 )

SLUMDOG MILLIONAIRE,Kisah Jamal dari Mumbai

Slumdog Millionaire merupakan sebuah film Britania Raya bernuansa Bollywood yang dirilis pada tahun 2008. Film yang disutradarai oleh Danny Boyle ini pemainnya antara lain ialah Dev Patel, Freida Pinto, Anil Kapoor, Irrfan Khan, dan masih banyak lagi. Di Inggris, tanggal rilisnya pada 12 November 2008, sedangkan di Mumbai pada 22 Januari 2009.
Slumdog Millionaire memenangi lima Critics' Choice Awards, empat piala Golden Globes, dan tujuh piala BAFTA Awards, dan memenangi penghargaan Oscar terbanyak Academy Awards 2008 (8 piala), termasuk penghargaan paling bergengsi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik

Cerita

Pada awal film ini, ketika judul ditayangkan juga terdapat tulisan "Jamal menyisakan pertanyaan terakhir, bagaimana dia melakukannya? a) dia curang b) dia beruntung c) dia jenius d) sudah ditakdirkan. Dimana pada akhir film ini anda akan mengetahui sendiri jawabannya.

DIBUKA dengan sebuah adegan mencekam: seorang lelaki muda dusun ditelanjangi, digantung di ruang siksa yang gelap yang hanya menyisakan segaris cahaya matahari. Lalu kita mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilemparkan kepada lelaki muda itu. Setiap kali jawabannya dianggap ”sinting”, dia disetrum, digebuk, atau ditendang.

Sekilas, adegan ini seolah membawa kita pada sebuah permulaan adegan politik. Tetapi, ketika kita dibawa ke sebuah ruangan studio acara terkenal Who Wants to Be a Millionaire, kita memahami: tokoh kita, Jamal Malik (Dev Patel), tengah disiksa polisi karena dia seorang calon pemenang kuis itu yang dicurigai telah bermain curang. Jamal adalah gembel jalanan tak berpendidikan yang mampu menjawab semua pertanyaan yang tingkat kesulitannya luar biasa tinggi. Sang pembawa acara, Prem Kumar (Anil Kapoor), yang merasa ”show ini milik saya”, memanggil polisi agar Jamal diinterogasi. Dari interogasi itulah kita kemudian disuguhi serangkaian adegan kilas balik sejak Jamal kecil hingga dewasa, dan bagaimana ia akhirnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tepat.

Dari kisah Jamal kepada polisi, kita mengetahui bahwa si kecil Jamal (diperankan oleh Ayush Mahesh, penduduk lokal dari Mumbai) berasal dari kampung kumuh, dan terpisah dari ibunya saat terjadi kerusuhan antara warga Hindu dan muslim. Bersama kakaknya, Salim (Azharuddin Mohammed Ismail), dan seorang anak jalanan perempuan bernama Latika (Rubina Ali), Jamal akhirnya terdampar ke dalam jaringan sindikasi pengemis pimpinan Maman (Ankur Vikal), yang semula mereka kira seorang ”malaikat” yang turun ke bumi. Ternyata ”malaikat” yang memberi atap, makan, dan minum itu memperlakukan mereka dengan brutal. Maman, yang merupakan perwujudan sosok Fagin dalam novel (dan film) Oliver Twist karya Charles Dickens, ternyata sering menyiksa ”pasukan gembel” peliharaannya hingga menjadi buta agar pekerjaan anak jalanan yang ”berprofesi” sebagai pengemis jadi lebih menghasilkan uang.

Singkat kata, Jamal dan Salim berhasil kabur dari kerangkeng Maman, tapi Latika tak berhasil lari. Dengan adegan kilas balik di antara ruang studio kuis tempat Jamal dewasa duduk di kursi panas, kita melihat adegan masa lalu Jamal kecil dan remaja yang menyusuri hidup sebagai anak jalanan yang berjualan makanan, berpura-pura menjadi tour guide di Taj Mahal, dan akhirnya menjadi office boy di sebuah kantor telemarketing.

Sutradara Inggris, Danny Boyle (Trainspotting, Millions), merombak novel Q and A karya Vikas Swarup ini menjadi sebuah dongeng modern. Boyle menyelam dalam realisme: semua rekaman adegan, dialog, dan akting para pemain (para pemain anak-anak non-aktor itu menyajikan penampilan yang luar biasa). Meski Boyle menghapus beberapa adegan keji (dalam novel ada peristiwa sodomi), penulis skenario Simon Beaufoy membuat film ini terfokus pada karakter Jamal yang mencari cinta sejatinya, Latika. Keinginannya menjadi peserta kuis Who Wants to Be A Millionaire bukan soal duit, melainkan cinta. Lakita, sesama anak jalanan yang dicintainya sejak masa kanak-kanak, masih terpatri dalam ingatannya.

Memang ini sebuah dongeng fantasi yang sengaja ingin melodramatik. Tetapi unsur melodramatik dan serba kebetulan ala novel Inggris abad ke-19 ini adalah sebuah tekanan yang memiliki tujuan. Boyle, yang pernah membuat sebuah film keras dan kelam seperti Trainspotting, kini membuat sebuah gambaran kehidupan brutal anak-anak jalanan yang dibanting nasib. Tetapi dia juga ingin memberi harapan, meski harapan itu terdengar bombastik: meraih duit miliaran rupee. Jamal sudah melalui banyak hal dan sudah melihat kebrutalan yang bertubi-tubi yang belum tentu pernah dialami manusia dewasa mana pun. Itu memberinya sebuah kebahagiaan: hasrat bertemu dengan sang kekasih yang sulit untuk dicegah dan memenangi kuis itu bukan cuma keinginan penonton, tapi juga sebuah hukum dasar dongeng. Sepanjang dua jam, penonton sudah dipaksa berdebar dan duduk di pinggir kursi: pertama, khawatir Jamal tak bisa menjawab; kedua, khawatir Jamal kecil akan dihajar oleh begundal mana pun yang ditemuinya di jalan.


Tokoh

* Dev Patel sebagai Jamal Malik.Ia seorang muslim,tinggal di permukiman kumuh di Mumbai
* Ayush Mahesh Khedekar sebagai adik Jamal
* Tanay Ccheda sebagai adik Jamal
* Freida Pinto sebagai Latika. Dia adalah pacar Jamal
* Rubina Ali sebagai adik Latika
* Tanvi Ganesh Lonkar sebagai adik Latika
* Maddhur Mittal sebagai Salim. Dia adalah kakak Latika
* Azharuddin Mohammed Ismail sebagai adik Salim.
* Ashutosh Lobo Gajiwala sebagai adik Salim.
* Anil Kapoor sebagai Prem Kumar, pembawa acara Kaun Banega Crorepati.
* Irrfan Khan sebagai inspektur polisi.
* Saurabh Shukla sebagai konsultan Srinivas
* Mahesh Manjrekrar sebagai Jave
* Ankur Vikal sebagai Maman
* Raj Zutshi sebagai prduser Kaun Banega Crorepati
* Sanchita Choudhary sebagai ibu Jamal
* Shah Rukh Munshi sebagai anak miskin
* Mozhim Shakim Sheikh Qureshi sebagai anak miskin


Read Users' Comments ( 0 )